Jakarta Sejuk

August 21, 2012 Leave a comment

Pagi ini Jakarta begitu sejuk, jam 8 lebih saya bersepeda motor mengantar istri bekerja ke bilangan SCBD, bekerja? Yup, kerja, perusahaannya tidak mengenal kata cuti bersama hari raya Idul Fitri dan sayangnya dia juga belum bisa mengambil cuti.

Pukul 8 lebih itu saya memacu sepeda motor dengan santai, karena tidak ada kemacetan. Saya sendiri heran, cukup aneh pada jam segini Jakarta begitu sejuk. Memang sudah lebih dari 2 hari ini Jakarta di tinggalkan oleh sebagian besar penghuni-nya pulang ke kampong halaman (mudik) untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri 1433 H, tak ada kemacetan, tak ada polusi, dan mungkin efeknya seperti pagi tadi, udara Jakarta menjadi sejuk.

Sebegitu besar dampak-nya tidak adanya kendaraan (mungkin berkurang lebih dari 85%) bagi udara Jakarta.

Adaikan saja setahun Jakarta seperti pagi ini, udara Jakarta akan menjadi bersih kembali. Dan bila setiap hari Jakarta seperti pagi ini, udara sejuk, tidak ada kemacetan, sungguh nyaman.

“Lets go Green”

 

 

 

Generasi Tempe

July 26, 2012 Leave a comment

Tempe merupakan makanan yang di buat dari biji kedelai yang di frementasi. Tempe merupakan salah satu makanan yang sangat Indonesi, dan makanan yang sarat dengan protein.

Saat ini tempe di asumsikan sebagai makanan untuk golongan menengah ke bawah karena harganya yang murah meriah. Masyarakat Indonesia yang senang ikut-ikutan dengan budaya barat juga ikut-ikutan tidak makan tempe katanya tidak elit dan tidak mencerminkan budaya modern. Padahal orang barat itu tidak/ jarang makan tempe karena disana sangat suilt mendapatkan tempe selain itu harganya juga tidak semurah di Indonesia.

Pentingnya asupan gizi tidak harus dari makanan yang mahal seperti dengan seringnya mengkonsumsi daging sapi, daging ayam atau yang lainnya. Sudah membudayanya di pikiran kita bahwa barang mahal pasti berkualitas dan barang murah pasti minim kualitas sehingga membuat pola konsumsi & belanja kita tidak sehat.

Mari kita memasyarakatkan tempe, memberikan infomasi bahwa tempe memiliki manfaat besar dan beragam, mencegah penuaan, menegah penyakit diare, jantung, hipertensi, dan yang lainnya. Makanya tidak heran masyarakat menengah kebawah lebih cenderung berpenyakit yang ringan-ringan saja karena sehari-hari mereka lebih banyak mengkonsumsi tempe.

Sekarang ini tempe sudah banyak di oleh menjadi berbagai jenis makanan yang sesuai dengan selera konsumen seperti, sate tempe, sushi tempe, keripik tempe, steak tempe, dan berbagai jenis makanan yang lainnya.

Sometimes good is not always expensive

Categories: Iseng

Serupa Tapi Tak Sama

July 24, 2012 Leave a comment

Setiap perjalanan mempunyai ceritanya sendiri, tak ada hal yang berulang untuk hal yang sama.

Sudah puluhan kali saya bepergian dari dan menuju tujuan yang sama, entah itu perjalanan darat, laut ataupun udara. Selalu saja ada yang berbeda, ada cerita tersendiri pada setiap perjalannanku ini walaupun untuk rute yang sama.

Sering cerita masa lalu datang menghampiri dalam perjalanan ini, angan masa depan sesekali terbayang, dan inspirasi sesekali mengunjungi.

Tak ada salahnya ku tulis cerita ini, mungkin saja akan menjadi inspirasi bagi orang lain🙂

Categories: Storytelling Tags: ,

Memanusiakan Jakarta

June 22, 2012 Leave a comment

Sebentar lagi, tepatnya pada pertengah Juli 2012 warga DKI Jakarta akan memilih pemimpin yang baru, pemimpin yang akan memimpin kota mereka untuk 5 tahun ke depan.

Jakarta sebagai ibukota Negara, kota terbesar di Indonesia tak lepas dari segala permasalahan, dengan tingkat kompleksitas yang tinggi, hampir semua permasalahan dapat di temui disini, mulai dari jurang kesejahteraan masyakarat miskin dan kaya, pendidikan, kepadatan lalu lintas, kemajemukan budaya sehingga membuat sekat-sekat berdasarkan suku, tingkat premanisme yang hampir menguasi segala sector, keamanan yang masih jauh dari aman hingga politik. Tak mudah hidup di kota Jakarta, begitu juga tak mudah memimpin Jakarta.

Saya memang sudah lama tidak tinggal di Jakarta, mungkin sudah hampir 9 tahun, tapi saya selalu ke Jakarta dan besar di Jakarta, kampung saya-pun Jakarta. Setiap beberapa bulan sekali saya ke Jakarta, melihat setiap sudut perkembangan Jakarta yang tiada henti, setiap kembali pasti saya melihat selalu saja ada gedung yang baru, gedung yang tidak kalah tinggi dengan yang lain, berlomba-lomba siapa yang punya gedung paling tinggi, seakan-akan ingin menampilkan ego-nya sebagai ibukota Negara.

Jakarta yang sekarang beda dengan Jakarta yang dulu kukenal, hilang keramah tamahan warganya, hampir hilang pesona Jakarta di mata-ku, salah satu yang dikenal saat ini Jakarta adalah kota untuk mencari uang.

Dengan jumlah penduduk 9,6 juta pada tahun 2010, tapi pada siang hari membengkak menjadi 12 juta dikarenakan tambahan komuter. Jika di ibaratkan sebuah kapal, Jakarta sudah sangat overload yang bisa tidak di jaga akan bisa tenggelam. Bila suatu kapal kelebihan muatan ada 2 cara mengatasinya: (1) Pindahkan sebagian muatan ke kapal lain, (2) Ganti kapalnya menjadi lebih besar. Sayangnya opsi nomer 2 tidak mungkin di lakukan, berarti yang harus di lakukan adalah opsi nomer 1.

Apakah muatan yang di maksud disini, muatan adalah segala yang ada di kota Jakarta. Pertama yang pasti adalah penduduk, lalu gedung perkantoran, mall, jalan raya, rumah, kendaraan bermotor, dan yang lainnya. Dengan jumlah masing-masing item di luar batas normal, sehingga cara terbaik adalah mengurangi sedikit demi sedikit muatan yang ada. Selanjutnya saya coba membahas sedikit ‘muatan’ yang di olah dari berbagai sumber.

Dengan luas 740 km²,  dan tingkat kepadatan Jakarta 12.978,2/km² maka tak heran Jakarta menjadi salah satu kota terpadat di dunia. Padahal rasio angka kepadatan penduduk ideal per km2 adalah 6000 jiwa.

*   *   *

Sedikit mari kita berhitung kasar sejenak.

Jakarta begitu sesak, dengan luas hanya 740 km² para penduduknya sebanyak 9,6 juta harus berbagi dengan yang lain terutama dengan benda mati. Gedung, entah berapa banyak gedung bertingkat di Jakarta, Jakarta memang pusat bisnis di Indonesia, gedung perkantoran, menjadi hal yang utama dalam mendukung sector ini, bila kita asumsikan luas semua gedung adalah 10% dari luas Jakarta berarti seluas 74 km².

Kendaraan bermotor-pun tak kalah banyaknya, pada tahun 2011 Polda Metro Jaya mencatat ada 12 juta kendaraan bermotor, mobil 3,1 juta dan motor 8,2 juta. Bila panjang mobil adalah 4 meter dikalikan dengan 3.1 juta, makan bila seluruh mobil di Jakarta di jejerkan akan memangjang sejauh 12.1 juta meter. Begitu juga dengan motor, 2 meter x 8,2 juta = 16.4 juta meter. Dan bila kita jejerkan semua (mobil & motor) maka kita akan mendapatkan pajang 28.5 juta meter.

Untuk “melayani” kendaraan bermotor kita juga harus menyediakan jalan, panjang jalan di Jakarta hanya mencapai 7.650 km adapun luasnya hanya 40,1 juta meter persegi atau 0,26 persen dari luas wilayah Jakarta.

Jakarta merupakan salah satu kota di Asia dengan jumlah pusat perbelanjaan terbanyak, tercatat ada 86 pusat perbelajaan, jumlah yang tidak sedikit. Pusat perbelanjaan, atau dengan bahasa sekarang di sebut mall sering di sebut tempat transaksi uang terbanyak di Jakarta, selain bank. Saat ini mall lebih di fungsikan sebagai pusat perbelanjaan dan rekreasi (instant) bagi para warga Jakarta, tak heran jika pada malam hari selepas kerja para pekerja kantoran memadai mall untuk sekedar untuk makan malam, belanja, bahkan untuk melepas penat. Mall terluas adalah Mall Artha Gading, di Jakarta Utara, mall ini memiliki luas 270.000 m2. Dan bila di asumsikan 1 mall itu seluas 70.000 m², makan total luas 86 mall adalah 6 juta m².

 *   *   *

Saat ini Jakarta lebih memanjakan benda mati dibandingkan dengan mahkluk hidup (manusia, hewan & tumbuhan), memanjakan kendaraan dengan menyediakan jalan yang mulus dan panjang, menyediakan lahan parkir bertingkat untuk keamanan kendaraan, menyediakan lahan untuk gedung bertingkat di lokasi strategis. Sampai saat ini saya masih mencari sejauh mana Jakarta memanjakan penduduknya sebagai manusia. Trotoar yang sempit,  berlubang dan tidak ramah untuk para penggunanya yaitu manusia. Selalu waspada akan tindak criminal di area public, kendaraan umum, dan di rumah yang membuat tidak nyaman para penggunanya yaitu manusia. Taman yang hijau dan ruang public yang sangat sedikit untuk menikmati udara segar untuk para penggunanya yaitu manusia.

Kita lupa, terhadap diri kita sebagai manusia, bahwa kita harus melayani manusia bukan melayani benda mati. saya memimpikan kota Jakarta sebagai kota yang maju di dunia, kota yang memanjakan pendudukanya sebagai manusia.

Semoga dengan pemimpin yang baru bisa menjadikan Jakarta menjadi lebih manusiawi.

gambar saya ambil dari sini

Mimpi

March 30, 2012 Leave a comment

Sebuah mimpi sederhana pernah ku-ucapkan, ingin ku jalani bersama pasangan hidupku. Tak hanya kisah sukses yang ingin kubagi tapi juga kisah perjuangan kita, bagaimana kita membangun impian kita untuk selamanya. Tak bisa kuberjanji selama perjalanan itu akan berjalan mulus tanpa hambatan, yang bisa ku janjikan adalah kita akan selesaikan semua masalah dan hambatan bersama.

Mimpi tak selamanya indah, mimpi buruk selalu datang ketika kita tidak berdoa kepada Allah. Sering kita lupakan Allah untuk hal kecil, padahal semua bermula dari hal kecil untuk menjadi besar.

Ketika ditanya, “kenapa mimpi-mu hanya seperti itu? Tak adakah mimpi mahabesar dengan sebuah mahakarya?”. Ku menjawab, “ada, dulu ku selalu mempunyai mimpi besar disebuah tempat yang terhormat, tapi itu dulu ketika aku hanyalah aku, mimpi besar dengan kekosongan dan kerapuhan yang luar biasa”, ku menghela nafas dan melanjutkan, “sekarang aku akan menjadi kami, dimana kesederhanaan yang disokong oleh kekokohan dan keseimbangan. Dulu ku hanya menyediakan satu kursi, sekarang selalu sepasang kursi dengan selalu mempersiapkan kursi tambahan disampingnya”.

Ku terbangun malam hari memikirkan hari itu, hari dimana kita menjadi halal, dimana kata “kamu” dan “aku” menjadi kita. Itu bukan akhir, tapi sebuah awal dari semua perjalanan yang akan kita lalui.

Categories: Lainnya Tags:

Serba Serbi Naik Pesawat

March 29, 2012 2 comments

Bepergian naik pesawat merupakan pengalaman yang unik pada setiap kesempatannya, selalu ada kesan tersendiri yang berbeda . Karena pada setiap penerbangan kita bisa melihat peristiwa menarik bila dicermati dan tentu saja perilaku manusia dengan berbagai macam gaya.

Pesawat sering di identikan dengan transportasi kelas atas, harus yang beduit yang bisa naik ini. karena secara biaya memang tarif untuk penumpang transportasi udara lebih tinggi dibandingkan dengan transportasi darat serta laut. Salah satu penyebabnya adalah tingkat invetasi yang besar dan biaya operasional serta maintenance juga tinggi. Seiring waktu pilihan masyarakat untk menggunakan jalur udara meningkat dikarenakan faktor waktu dan tarif yang semakin turun

Dengan itu semakin banyak yang memilih jalur pesawat, berdampak pada  situasi bandara yang semakin ramai oleh calon penumpang dan pengantar, dan semakin beragam kelas masyarakat yang naik pesawat. Dari wisatawan, pebisnis, karyawan, mahasiswa, perantau, hingga pemudik yang hendak pulang kampung.

Yang membedakan pesawat dan transportasi lainnnya khususnya darat adalah jadwal yang sudah ter-schedule (aneh pilihan katanya😀 ), sistem informasi yang jelas dari pemesanan tiket yang bisa dibeli secara online, sistem bagasi, sistem kontroling udara sehingga diperlukan manajemen waktu agar semuanya bisa berjalan sesuai jadwal. Dan itu berlaku juga untuk calon penumpang, contohnya setiap penumpang harus hadir min 1 jam sebelumnya sebelum waktu take off untuk proses check in, borading, dan beberapa prosedural yang harus diikuti sebelum kita bisa menaiki pesawat.

Menarik bila kita cermati prosedur-prosedur selama kita menjadi penumpang pesawat, karena kita bisa melihat kejadian menarik, karakter seseorang yang mungkin kita bisa ambil hikmahnya:

1. Pemeriksaaan Tiket Masuk,  pemerikasaan dilakukan oleh perugas bandara, hal menarik adalah antri, banyak yang belum sadar akan proses antri, banyak yang langsung menorobos untuk bisa langsung masuk, selain itu banyaknya pengantar disekitar tempat pemeriksaan tiket sehingga calon penumpang yang ingin masuk menjadi terhambat

2. Proses scan barang, setelah melewati pemeriksaan tiket, lanjut untuk scan barang. Ternyata masih banyak yang susah antri, selain itu yang paling membuat kesal adalah banyak yang sering meninggalkan trolley begitu saja setelah selesai memindahkan barangnya ke mesin scan sehingga calon penumpang yang lain khsusunya yang berada dibelakangnya menjadi terhambat. Unik di Indonesia, banyak sekali calon penumpang yang tidak memasukan Handphone-nya kedalam mesin scan dan dibiarkan oleh petugas bandara sehingga calon penumpang berpikir itu adalah hal yang lumrah. Hhmm… berarti handphone masih menjadi barang yang tidak dicurigai bila terjadi sesuatu.

3. Proses Check in, mengantri sering kali tidak teratur dan yang benar-benar mengesalkan adalah ketika selesai memasukan barang kedalam bagasi mereka meninggalkan trolley begitu saja seakan-akan menjadi hal yang lumrah.

4. Pembayaran Airport Tax, jarang menjadi kendala, karena pada saat ini calon penumpang lebih santay karena proses check in telah selesai.

5. Masuk Boarding Room, sama seperti point sebelumnya, jarang ada kendala. Point minus kembali ketika proses scan barang, masih jarang handphone itu masuk kedalam mesin scan, tapi ini hanya terjadi dibeberapa bandara saja.

6. Cek Boarding Pass, pemerikasaan tiket untuk naik pesawat yang dilakukan oleh petugas maskapai Antri kembali menjadi hal yang susah dilakukan, para penumpang berlomba-lomba ingin masuk duluan agar bisa dengan leluasa menaruh barang dan menghindari antri yang panjang. Sayang sekali pada point ini petugas maskapai tidak melakukan cek barang bawaan yang dimasukan kedalan cabins, sering dilihat bahwa banyak penumpang yang mambawa barang bawaannya kedalam cabin.

7. Naik Bus (tidak setiap saat), hanya ketika pesawat berada jauh. Ketika naik bus dari bandara menuju pesawat sering penumpang berdiri di dekat pintu sehingga menghambat penumpang lain yang ingin naik juga, alasan mereka adalah cepat turun agar bisa cepat naik ke pesawat.

8. Masuk Pesawat, disinilah yang paling menarik. Antri lagi-lagi menjadi problem, tapi ketika sudah ada dipesawat kita dipaksa antri karena jalurnya diantara bangkun memang hanya muat untuk 1 orang. sering juga ketika salah satu penumpang ingin menaruh koper atau tas di cabin pesawat, karena tak sabar penumpang yang dibelakangnya dengan tidak sabar langsung menerobos.

Selain itu disini kita bisa liat cukup banyak penumpang yang membawa banyak sekali barang bawaan ke dalam cabin, padahal barang tersebut harus di bagasi. Sering kali alasan penumpang adalah jika dimasukan bagasi cukup memakan waktu untuk proses pengambilannya, itu bisa di maklumi, terkadang penulis juga membawa 1 koper kecil dan 1 tas ke cabin. Tapi dengan alasan juga mereka akhirnya menambahkan tas-tas yang lain, membawa 3-4 tas jinjing cukup besar, tapi yang paling saya heran adalah ada yang membawa bedcover kedalam cabin, padahal ukuran bedcover cukup besar dan bukanlah barang yang mudah pecah. Paling unik adalah perjalan dari Bali karena dapat dipastikan cabin pasti full karena penumpang membawa oleh-olehnya ke cabin.

*  *  *

Dampak dari banyaknya semakin banyaknya yg memakai jalur transportasi udara harus dibarengi oleh peningkatan fasilitas, terutama adalah kapasitas bandara. Untuk kota Jakarta, saat ini sudah ada rencana pembangunan untuk perluasan bandara Soekarno-Hatta, saat ini bila kita perhatikan, semakin lama bandara Soekarno-Hatta khususnya terminal 1 semakin mirip terminal bus antar kota. Tak hanya ramai, tapi etika calon penumpang dan yang mengantar tidak layak. Antri adalah hal tersulit dilakukan oleh banyak masyarakat indonesia, tak peduli dia mempunyai gelar sarjana, master, punya mobil mercy, BMW atau jaguar tetap saja perilaku-nya minus ketika ia tidak bisa mengantri. Ini juga berlaku untuk penulis yang terkadang enggan mengantri.

Mari budayakan antri, sebagai cerminan masyarakat yang ramah dan sebagai calon bangsa yang maju🙂

Leave Your Gadget

February 1, 2012 Leave a comment

Peran teknologi sungguh tidak tergantikan saat ini, kita tidak bisa hidup tanpa teknologi, kita harus membawa teknologi dan kita selalu di kelilingi oleh teknologi. Istilah kuper, tidak up to date, selalu menjadi momok yang tidak menyenangkan bagi orang-orang dengan tingkat pergaulan dan eksitensi yang tinggi sehingga mereka memilih untuk membawa teknologi agar mereka selalu up to date. For real they don’t exactly need that.

Awalnya teknologi adalah untuk mempermudah hodup kita, tapi saat ini malah kita bergantung pada-nya dan tidak bisa hidup tanpa teknologi. Smartphone, blackberry, iphone, ipad, notebook, tablet pc dan yang lainnya sudah menadi daftar barang bawaan yang wajib kita bawa. Semua kebutuhan hidup dan pekerjaan kita bergantung padanya. Kehidupan pribadi dan kehidupan sosial kita hanya berada pada layar datar yg kita pegang, dan tanpa disadari kita menjadi talk-less, face-less, write-less, read-less, dan social-less. And no more physical interaction.

Awalnya ketika mempunyai gadget tersebut kita seketika menjadi orang yang keren, orang yang high tech, selalu up to date dan merasa derajat kita naik. We became online anytime & anywhere dan tanpa disadari kita semakin jauh dari orang-orang didekat kita, teman kita hanyalah gadget-gadget, tanpa disadari bunyi yang selalu dinanti adalah bunyi notifikasi incoming message seolah ada kehidupan yang datang menghampiri dan tak sabar ingin membacanya.

Ini juga terjadi padaku, candu pada gadget, tak bisa lepas dari Blackberry dan lapto. Kusadari ternyata sungguh tidak nyaman hodup dalam sebuah layar yang tidak lebih besar dari 5 inch. Sudah beberapa bulan ini aku mulai membatasi diri untuk terlepas dari mereka (gadget), dan saat ini hanya blackberry saja yang hampir selalu kubawa kemana-mana tapi intensitasnya sudah jauh berkurang, terlebih apabila aku sedang berada bersama teman-teman atau dengan orang terdekat. Aku sadar bahwa aku berhutang pada mereka (orang-orang), berhutang bersosialisasi, berhutang interaksi, berhutang senda gurau, berhutang cerita, dan berhutang mendengarkan kisah mereka. Laptop, aku tinggalkan selalu di kantor selepas jam kerja, terkecuali pada waktu week end untuk kebutuhan lain jika diperlukan. Aku tidak ingin membawa pekerjaan kantor ke rumah walaupun itu belum selesai, I want to try that my life is not my work.

Aku ingin kembali merutinkan membaca buku yang terganggu oleh kehadiran blackberry karena sibuk untuk bersosialisasi secara virtual. Buku yang bukan dibaca pada sebuah layar, not an article that read on web. Sebuah buku dimana kita mendapatkan suasana berbeda, kenyamanan ketika memegangnya, saat telapak tangan memegangnya bunyi kertas yang renyah ketika berpindah halaman.

Just once for a while, leave your gadget and be human again once more🙂

Categories: Obrolan Warung Kopi