Home > Obrolan Warung Kopi > Candoleng-Doleng

Candoleng-Doleng

suatu hari ada perbincangan menarik di kantor ku:

“man, mao tau ga apa yang terkenal disini…?”
“mao om, apa itu…?”
“can doleng-doleng”
“apa itu…?”
“ya semacam striptise kelas kampung lah….”
“wah yang bener nih…?”
“ini beneran lho, jadi penari-penari nakal yang berjoget di atas panggung demi mendapatkan saweran dari penonton”
“gila…., mungkin kalo di daerah jawa itu semacam Ronggeng”
“yup, ur right, kalo di Jawa itu ada Ronggeng dan kalo di Sulawesi Selatan itu ada candoleng-doleng”
“trus apa lagi om…?”
“#@#%&@…”….(terlalu banyak yang vulgar, hehehe)

. . . . . . . . . .

Awalnya saya tidak percaya dengan hal semacam itu disini, yang notabennya mayoritas agama Islam. Entah mengapa hal ini sudah di kenal di masyarakat, dan menurut berita yang beredar, candoleng-doleng sudah lama ada di daerah Sidrap, yang mayoritas suku bugis, dan apakah itu..?

Candoleng-doleng adalah suatu hiburan yang ada di masyarkat kota Sidrap, Sulawesi Selatan yang bisa dikatakan bihuran “nakal” atau hiburan orang “dewasa” yang disajikan secara rakyat atau pinggir jalan. Biasanya mereka ada ketika ada pesta pernikahan sebagai hiburan. Bila di tempat lain kita sering menjumpai dangdutan, tapi beda dengan di Sidrap. Dengan menggunakan musik eleton (orkes tunggal) dan beberapa penari, biasanya 3-5 orang. Begitu musik dinyalakan para penari tersebut menarikan gerakan erotis yang bisa mengundang syahwat, khususnya para lelaki, dan bahkan gerakan yang seolah-olah sedang melakukan gerakan hubungan i***m. Para penari itu sesekali mengeluarkan suara-suara mendesah. Tak hanya itu, para penari juga satu persatu melepas pakaian mereka, dan terkadang hanya tinggal memakai pakaian dalam saja dan bahkan ada juga yang sampai bugil. Para penonton juga tinggal diam saja, penonton memberikan saweran kepada penari, dan cara memberikan-nya harus di tempat khusus, yaitu di selipan  pakaian dalam penari, bisa di CD (biasanya menyelipkan uang antara 5-10 ribu) ataupun di BH (biasanya menyelipkan uang antara 1-5 ribu) dan selagi penonton menyelipkan uang biasanya “nakal”, sekalian meremas bagian penari tersebut.😀

Yang menjadi pertanyaan adalah:

“Dimana polisi…?”, “kok tidak ada tindakan apa-apa dari polisi…?”

Dulu polisi tidak bisa bertindak apa-apa karena kalah dengan “pengaruh” para kepala adat setempat. Tapi sekarang candoleng-doleng sudah banyak di razia karena sudah merasa gerah dengan situasi yang ada. Dan patut di sayangkan adalah candoleng-doleng ini sering dilakukan siang hari dan tak jarang pula anak-anak kecil menontonnya.

Oya, jika mau melihat videonya bisa dilihat disini.

Categories: Obrolan Warung Kopi
  1. Fanni
    September 5, 2008 at 7:32 am

    sumpah lw, kom….anak2 kecil juga ikutan liat…????
    Anak kecil liat kom…apa lagi lw…pastinya duonk…
    puasa…puasa…
    Astaghfirullah

  2. kinko
    October 10, 2008 at 5:04 am

    hehe…pastinya..
    lo pasti ga percaya, believe it or not, it happened

  3. Atieq Z. Muttaqien
    January 28, 2009 at 5:03 am

    Astagfirullahhaladzim……. ronggeng, dombret bahkan ajojing termasuk uedan,..tapi ternyata candoleng doleng paling uedan.. soalnya pertunjukannya betul betul di muka umum..bocah bocah jg banyak yang nonton…. tapi ane jd lbih bingung lg keliatannya Polisi n tentara malah ikutan ueeeedaaaaaaaaaaan

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: