Home > Obrolan Warung Kopi > Jakarta-ku sayang, Jakarta-ku malang

Jakarta-ku sayang, Jakarta-ku malang

Kenapa selalu Jakarta?  peruntungan hidup, pekerjaan, acara/ event, pusat bisnis, pendidikan,  kehidupan,  dan segalanya. Why is always Jakarta? Isn’t there any other city?

Terlalu banyak orang yang menyayangkan hal ini, seakan-akan bahwa setengah dari Indonesia adalah Jakarta. Apakah anda iri karena tidak tinggal disana? Yup, sebagian diriku iya.

Kota Jakarta telah berusia lebih dari 350 tahun, telah banyak berganti nama dari Sunda Kelapa (semasa zaman kerajaan islam jaya), Batavia (zaman colonial Belanda), Jayakarta, dan akhirnya Jakarta. Kota dengan suku terbanyak di Indonesia, penduduk terpadat melebihi 8,5 juta jiwa (sumber). kota impian hampir bagi semua orang, mereka berlomba-lomba datang ke Jakarta untuk mencoba peruntungan mereka berharap kembali mengulang segelintir kerabat mereka yang telah sukses walau mereka tahu untuk mendapatkannya itu sangatlah susah dan akhirnya hanya menambah kepadatan penduduk kota.

Apakah kota lain iri? Iya. Bukan iri karena padatnya penduduk, bukan iri karena terlalu banyak masyarakat di bawah garis kemiskinan, bukan iri karena terlalu banyak pengangguran tapi iri karena kota mereka sering dilupakan oleh para penguasa bahwa masih ada kota lain yang mempunyai potensi yang sama, iri karena banyak dilupakan masyarakat dan ingin mengatakan bahwa “kalian tidak perlu ke Jakarta untuk mencari hal tersebut, disini juga masih ada”.

Jakarta-ku sayang Jakarta-ku malang. Sayang karena kotaku dulu menghabiskan masa kecilku jadi seperti ini, tidak ada yang tersisa semuanya habis. Tiada lagi tanah kosong untuk bermain selepas sekolah dan menjelma menjadi bangunan dan rumah. Tiada lagi jalan yang kosong untuk bermain sepeda dengan riang dan menjelma menjadi lahan parkir mobil bagi mereka yang tidak mempunyai garasi. Tiada lagi jajan dengan aman & sehat dihalaman sekolah.  Tiada lagi beramai-ramai pulang dengan teman-teman dan tiada lagi permainan di lapangan yang mengundang sorak sorai karena orang tua sekarang tidak mempunyai perasaan aman ketika karena takut akan penculikan dan pergaulan yang salah dan lebih baik melihat anaknya kecanduan permainan computer.

Ingin rasa-nya ku kembali ke Jakarta tapi ku merasa takut karena ku tak mengenal dia (Jakarta) lagi, setelah lama ku tinggalkan ternyata dia sungguh cepat berubah, mengikuti perkembangan zaman katanya.

Jakarta-ku malang, karena ku yakin banyak orang yang tidak betah tinggal denganmu tapi mereka terpaksa tinggal disana karena disanalah sumber kehidupan mereka. Kuyakin bahwa mereka sebetulnya ingin pindah tapi tak tahu harus kemana dan mendapatkan peruntungan apa di kota barunya.

Masa telah berganti, orang-orang telah banyak yang keluar dan masuk, penguasa dirimu silih berganti. Ku tak mungkin berharap kota yang dulu pernah ku kenal menjadi seperti dulu lagi, tapi ku selalu berharap kota-ku menjadi lebih baik.

Categories: Obrolan Warung Kopi
  1. December 13, 2009 at 9:27 am

    stay di pare2 aja kawan…banyak tanah kosong n jajanan sehat bergizi..

    • kinko
      December 13, 2009 at 5:25 pm

      ga mauuuuuu…..
      tega bange lo….

  2. December 14, 2009 at 2:03 am

    gaya lo, udah nulis melankolis..ujung2nya gak mw di pare2…
    ato pindah ke fakfak aja gmana?

    • kinko
      December 16, 2009 at 8:08 am

      siyal lo…
      ngasih pilihan kaga ada yg bagus :p

  1. September 17, 2010 at 6:19 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: