Home > Obrolan Warung Kopi > KA Parahyangan tutup…?

KA Parahyangan tutup…?

Kereta Api semakin lama semakin kalah pamor dengan angkutan yang lainnya. Para penumpang, termasuk saya, lebih memilih angkutan yang lain di bandingkan dengan naik kereta api. Salah satu kereta yang dulu menjadi andalan saya rencananya mau berhenti beroperasi, Kereta Api Parahyangan, jurusan Jakarta (Gambir & Jatinegara) – Bandung (Stasiun Hall).

Agak sedikit kaget saya ketika membaca berita tersebut, karena pada waktu awal kuliah di Bandung, KA Parahyangan menjadi salah satu andalan untuk perjalanan ke/ dari Bandung. Pada waktu itu pilihan ke Bandung hanya ada 2: naik kereta api atau bus.  Kalau naik bus memang bisa lebih murah, tapi menuju terminalnya itu jauh, kalau di Jakarta bisa naik/turun di UKI tapi pas di Bandung itu di terminal Leuwi Panjang, waduh itu kan jauh dari tempat kos di Geger Kalong, bagian utara Bandung.  Dan pilihan berikutnya adalah naik KA, pada saat itu harga tiketnya cukup mahal (bagi ukuran mahasiswa) yaitu Rp.40.000, itu sekitar awal tahun 2000 lalu naik menjadi Rp.45.000 pada tahun 2005 (kalau ga salah ya :D). Hahaha, jadi ketauan deh kere-nya.

KA Parahyangan merupakan kereta api kelas bisnis dengan jurusan yang paling aman di bandingkan yang lain, hampir tidak ada copet, pengamen, dan pedagang asongan yang masuk kesini.  Berbeda kalau dengan KA kelas bisnis tujuan Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur, pengamen dan pedagang-pun bebas masuk kesana dan mereka-pun sewaktu-waktu bisa berubah profesi menjadi tukang copet, jadi ketika mereka masuk kita harus segera bangun jangan sampai barang bawaan kita raib.  Dan setahu saya KA Parahyangan ini paling jarang ada laporan kehilangan, wong saya sering tidur tapi barang-barang masih tetap aman.

Selain itu, terkadang ketika kita harus beberapa kali pulang ke Jakarta pada waktu yang tidak diduga, jadinya harus ada dana tambahan yang harus dikeluarkan.  Saya dan teman-teman saya punya satu trik untuk mensiasatinya, yaitu, “bayar diatas” alias ga beli tiket atau menjadi penumpang gelap.  Jadi, kami atau terkadang saya sendiri bayar melalui kondektur yang sedang bertugas, dan ternyata cukup banyak yang melakukan seperti ini, tak hanya di kelas bisnis saja tapi juga di kereta api ekonomi, kereta api listrik (KRL) dalam kota Jakarta dan kereta api diesel (KRD) dalam kota Jakarta, tapi saran saya jangan terlalu sering melakukan hal ini karena sekali waktu bisa apes, karena sewaktu-waktu itu ada petugas pengawas yang ada ikut di KA dan ketika mereka ada para kondektur tidak berani untuk menerima uang “bayar diatas” dan kalau ketahuan kita semua bisa diturunkan dimana saja, ya kalau pengawasnya baik penumpang gelap tersebut itu diturunkan di stasiun besar, seperti stasiun Purwakarta tapi kalau pengawasnya itu cukup tegas itu diturunkan stasiun kecil yang entah dimana, hehehe….bisa dibayangkan di tempat yang entah dimana dan tidak ada kendaraan apa-apa dan untungnya saya belum pernah mengalaminya. Kalau ada petugas KA yang baca tulisan ini, saya mohon maaf atas dosa saya terdahulu😀

Saya mulai meninggalkan untuk naik kereta api pada akhir tahun 2006, karena pada waktu itu sudah mulai banyak travel jurusan Jakarta – Bandung, sebetulnya sih travel ini sudah lama, tapi baru pada saat itu baru ada travel yang menawarkan harga dibawah standar a.k.a harga mahasiswa.  Dan ternyata tak hanya jurusan Jakarta – Bandung yang sepi penumpang, kereta api dengan jurusan yang lain-pun mengalami penurunan.

Ada cukup banyak alasan mengapa saya mulai beralih menggunakan jasa travel dan pesawat di bandingkan dengan kereta api, diantaranya:

1. Lama, waktu tempuh Jakarta – Bandung saat itu cukup lama, sekitar 3 jam perjalanan. Belum dihitung waktu menunggu di stasiun, kereta terlambat datang, atau tambahan waktu ketika di jalan pada sewaktu-waktu. Jadi di total-total bisa 4-5 jam.

2. Jadwal, jadwal yang terbatas, hanya pada jam-jam tertentu saja, berbeda dengan travel yang hampir setiap jam ada keberangkatan dari/menuju Jakarta atau Bandung.

3. Kenyamanan dalam KA, jujur di kereta api kurang nyaman dengan:

a. Tempat duduk, kelas bisnis.  Untuk penumpang pemula dipastikan sangat sulit untuk menyesuaikan dengan tempat duduk ini karena memang tidak dirancang dengan tingkat kenyamanan yang memadai, kalau kelamaan duduk pantat pasti sakit, dan dibawa tidur-pun kurang nyaman tau-tau pas bangun leher sakit😀.

b. Kebersihan juga menjadi point minus, kalau ukuran bersih dari sampah sih bersih, tapi sepertinya jarang sekali lantainya itu dibersihkan secara total, seperti di sikat atau yang lainnya.

c. Hawa, panasnya bukan main kalau naik kelas bisnis disiang hari karena tidak pakai pendingin, makanya saya lebih memilih kereta api malam untuk perjalanan jauh, jadi tinggal tidur deh.

d. Kamar mandi, paling utama, waduh kok parah banget ya, no comment deh.

4. Makanan, entah mengapa kalau tidak sangat terpaksa saya enggan sekali makan/pesan  makanan yang disediakan kereta api.  Sebetulnya alasan utamanya adalah harganya yang mahal dan rasanya juga biasa/ standar.

5. Stasiun, standar kenyamanan stasiun yang ada masih dibawah. Jarang sekali stasiun yang nyaman, tempat duduk, kebersihan, keamanan, keramaian, dan yang lainnya sehingga penumpang-pun betah berlama-lama menunggu di stasiun.  Ada beberapa stasiun yang menurut saya itu sudah di kategorikan nyaman: Stasiun Gambir-Jakarta, Stasiun Hall-Bandung, Stasiun Tugu Yogya, dan beberapa lainya.

Ternyata tak hanya kereta api Parahyangan saja yang mengalami penurunan, kereta api jurusan lain-pun juga dan ketika iseng-iseng bertanya kepada para pengguna yang meninggalkan jasa kereta api dan alasannya hampir sama dengan yang diatas. Jurusan yang mulai sepi diantaranya:

1. Jkt – Bdg, waktu tempuh ±3 jam, pindah ke travel dengan waktu tempuh ±2 jam.

2. Jkt – Ygy, waktu tempuh  ±8 jam, pindah ke pesawat dengan waktu tempuh ±1 jam

3. Jkt – Smg, waktu tempuh ±8 jam, pindah ke pesawat dengan waktu tempuh ±1 jam

4. Jkt – Sby, waktu tempuh ±13 jam, pindah ke pesawat dengan waktu tempuh ±1:20 jam.

5. Ygy – Sby, waktu tempuh ±6 jam, pindah ke pesawat dengan waktu tempuh ±1:10 jam.

Kereta Api yang dulu sangat Berjaya semakin lama semakin di tinggalkan, orang-orang lebih memilih menggunakan angkutan yang lain. Padahal ketika kita ingin jalan-jalan dan ingin menikmati perjalanan pilih lah kereta api.

Banyak cerita yang bisa saya dapatkan di kereta api, ada nuansa tersendiri ketika kita naik, melewati hamparan sawah yang hijau, perbukitan, pegunungan dan perkampungan sambil menikmatinya dibalik kaca jendela atau duduk di pintu kereta.  Cerita dari seorang tak dikenal yang duduk disebelah hingga menjadi sehabat dekat. Yang pasti banyak ide, cerita dan lagu bermunculan seputar kereta api, karena ketika kita sedang dikereta api kita menjadi diri sendiri, waktu perjalanan menjadi waktu kita sendiri yang terlepas dari gangguan dari luar, telepon, computer, internet, dan televisi.  Maka tak jarang penumpang-pun sibuk dengan membaca, menulis, ataupun tertidur karena  seakan-akan waktu menjadi berputar kembali ke masa dimana tanpa adanya teknologi-teknologi tersebut .

Kereta api sangat berjasa untuk saya ketika waktu itu dan entah sudah berapa lama saya tidak naik kereta api, hmm…..lupa. Kangen? Yup, lumayan. Rindu akan hal-hal unik yang hanya bisa di jumpai ketika naik kereta api.

Categories: Obrolan Warung Kopi
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: