Home > Obrolan Warung Kopi > Cerita Dalam Layar Kaca

Cerita Dalam Layar Kaca

Beberapa waktu yang lalu ketika makan di satu rumah makan, saya melihat tv yang menayangkan sebuah cerita serial atau biasa kita sebut sinetron. Pertama kali yang terucap sih bukan acaranya tapi lebih ke televisinya: “wah, ternyata sudah lama juga ya tidak menonton tv :D”….hehe, kesannya memang kampungan, tapi jujur, untuk beberapa waktu ini saya amat jarang menonton tv, salah satunya karena di tempat kos tidak ada tv. Wah jadi ketahuan deh.

Oke, kita kembali ke tayangan tersebut, dalam 15 menit menonton, ‘saya tidak tahu judul cerita serial tersebut’, ada beberapa kejadian yang lucu: pertama, ada orang yang diculik lalu disekap di gudang, kedua, berlatar belakang di rumah sakit ada seorang dokter yang memberitahu kepada pasien tentang penyakit yang dideritanya yang sepertinya mengalami penyakit yang parah, lalu yang ketika di satu rumah, ada seorang ibu yang sangat muda menggendong anaknya ingin pamit kepada mertuanya yang terlihat galak untuk pergi (entah dengan siapa), lalu selain itu hanya iklan yang cukup lumayan menurut saya. Waktu itu menunjukan pukul sekitar 21.00 wib yang memang masih pada jadwal waktu prime time.

Ketika perjalan pulang dari rumah makan tersebut saya baru sadar, “gile cerita serial itu parah juga ya…..hahahahahaha”, dalam hati saya tertawa. Tidak pernah terbayang bahwa cerita seperti itu, penculikan, mertua yang galak, dokter dan pasien yang dibuat-buat ternyata sangat laku dijual kepada penonton Indonesia dan entah yang membuat hal-hal seperti itu disukai. Saya belum sempat bertanya-tanya secara detil kepada teman-teman terutama yang wanita apa yang disukai dari cerita seperti itu.

Sebelum mengalami cerita serial versi Indonesia atau biasa di sebut sinetron, kita terlebih dulu mengimpornya dari Negara-negara luar. Pada pertengahan 1990-an kita mengimpornya dari Amerika Selatan, biasa kita sebut dengan Telenovela. Lalu pamor pesona latin diganti oleh gairah cerita serial India pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an. Kemudian yang sangat booming adalah cerita serial dari daerah sekitaran Laut China Selatan hingga keutaranya, Taiwan, China, dan yang lainnya, yang mewabah sepertinya sebuah virus. Bagaimana tidak, efek dari tayangan-tayangan itu para penonton Indonesia merubah penampilanya, -busana, model rambut, hingga perawakan, seperti bintang yang ada di cerita. Para produser yang mempunyai banyak uang melihat ini sebagai peluang hingga meng-copy jalan ceritanya dan dibuat film-nya kembali (remaking) dan modifikasi sedkit dengan gaya Indonesia dan diperankan oleh bintang lokal. Dan yang lebih anehnya lagi ternyata cerita itu tidak kalah laku.

Ketika saya melihat-lihat sedikit tentang model cerita dan tayangan-tanyangan yang dari produk impor hingga lokal ternyata itu ada satu kesamaan, yaitu semuanya mengumbar banyak kebohongan, kemewahan yang amat sangat, kemudahan dalam mendapatkan sesuatu, perubahan nasib dari seorang yang tidak mempunyai apa-apa menjadi seorang yang kaya raya dengan cara mudah cepat, cerita cinderalla gadis miskin/biasa bertemu dengan pangeran impian yang kaya raya dan hal-hal lain yang sangat jauh dari kenyataan itu. Hehehe, berarti penontong Indonesia senang dibohongi.

Kalau saya ditanya, “apa yang kamu liat kalau nonton tayangan seperti itu?”, “saya??, Cuma liat pemeran wanitanya cantik-cantik, itu aja..hahahahaha, ngapain mengikuti alur cerita yang jauh dari masuk akal”.

Categories: Obrolan Warung Kopi
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: