Home > Obrolan Warung Kopi > Andaikan Pemerintah Mengenal Kata Bangkrut

Andaikan Pemerintah Mengenal Kata Bangkrut

Suatu hari Adi bertanya kepada bapaknya, “Pah, boleh ga Adi di belikan tas baru?”
“memang tas yang lama kenapa di? Sudah rusak ya?”,
“belum sih pah, tapi tas-nya uda ga keren lagi, teman-teman pake tas yang lebih keren”,
“nanti ya di, kalau kamu dapet rangking satu papah belikan”
“wah benar yap ah, janji ya….?”
“iya, papah janji asalkan kamu janji belajar yang rajin”

Di tempat lain

“yah, Tono mau jalan-jalan ke Dufan?”, rengek Tono
“Mau apa kamu kesana?”, teman-teman sudah pada kesana semua, masa Tono belum pernah kesana
“aduh nak, kamu seperti tidak tahu kondisi keluarga kita, kita tidak punya duit untuk jalan-jalan kesana, nanti saya ya, kalau akhir tahun ada sisa uang”,
Tono diam saja dengan cemberut…

* * *

Kedua cerita di atas merupakan sebuah ilustrasi yang pastinya sering kita dengar sehari-hari di sekeliling kita dalam satu keluarga, permintaan seorang anak kecil kepada ayahnya. Dan seorang ayah tidak begitu saja memberikan apa yang anak-anak mereka minta dengan melihat beberapa pertimbangan.

Keluarga merupakan sebuah organisasi berprofit terkecil dan tersederhana dalam kehidupan kita. Beranggotakan minimal 2 orang hingga 10 secara rata-rata. Kenapa berprofit, karena dalam organisasi ini di butuhkan penghasilan untuk membiayai pengeluaran mereka sehari-hari, seminggu kedepan, sebulan, setahun, hingga satu decade kedepan. Ayah, sebagai pemimpin dan juga seorang pemimpin organisasi ini mempunyai kebijakan mutlak untuk hampir semua keputusan dalam organisasi ini, dari hal terkecil hingga terbesar, dari jangka panjang sampai jangka panjang. Tentu saja ayah tidak semena-mena mengabulkan semua permintaan untuk sebuah pengeluaran, di dampingi oleh seorang perdana mentri, dalam hal ini ibu, mereka membicarakan dengan matang rencana-rencana mereka. Mereka tidak ingin organisasi berprofit ini di nyatakan bangkrut, karena sumber penghasilan mereka terbatas. Dalam singkat kata bisa kita katakan organisasi ini mempunyai pendapatan dan pengeluaran langsung. Karena mereka sendiri yang mecari sumber dana, merencanakan, dan mengeluarkan dana tersebut.

Tak hanya dari sisi keuangan saja yang organisasi ini pikirkan, aspek agama, pendidikan, keamanan, kesejahteraan, perilaku, facility, dan lainnya. Dan tentu saja kedua pemimpin juga memikirkan hasil dari semua aspek.

* * *

Sedangkan organisasi terbesar dalam satu Negara adalah pemerintah, beranggotakan ribuan puluh orang, mempunyai tingkat strata yang sangat banyak dalam organisasi ini.

“bandingkan dong man..?”, ok, akan kami bandingkan.

Dalam hal ini pemerintah kami anggap sebagai organisasi setengah profit, dengan alasan organisasi ini mempunyai outcome yang jelas dan secara langsung dan tak langsung karena selain untuk rakyat mereka juga ikut merasakan sendiri pengeluaran itu. Tapi organisasi ini mempunyai income tidak langsung karena mereka mendapatkannya income ini dari pajak. Secara konseptual dan pelaksanaan harusnya organisasi ini lebih teroganisir karena berisikan orang-orang yang ahli di bidangnya masing-masing dan tentu saja ada badan pengawas yang bertugas mungkin mengawasi semua.

Mari kita kembali ke pokok permasalahan, yaitu keuangan. kami memang bukan ahli keuangan, tapi aku tahu hal adalah dalam masa-masa sulit saat ini pengeluaran tentu menjadi hal yang sangat di perhatikan, suatu organisasi berprofit akan lebih memperhatikan tujuan dan mafaat serta dampat dari pengeluaran ini. Tapi tentu saja hal ini tidak berlaku untuk (tidak semua) organisasi non-profit atau setengan profit, dengan kekuatan income yang tidak terbatas mereka bisa melakukan perencanaan pengeluaran yang cukup bisa di katakan besar tanpa harus memikirkan kekurangan anggaran pada masa mendatang.

Berarti bisa di katakan bahwa pemerintah sebagai organisasi terbesar itu dalam merencakan anggaran pengeluaran itu seenaknya ?. Kami tidak berbicara seperti itu, ada satu point dimana hal itu benar, tapi yang kami lihat adalah seseorang atau suatu organisasi bila mempunyai sumber dana yang tidak terbatas maka perencenaan pengeluaran akan lebih leluasa mengaturnya.

* * *

Andaikata pemerintah sebagai organisasi terbesar di Negara ini mengenal kata bangkrut, kami yakin mereka akan lebih bijak menggunakan dan mengeluarkan anggarannya.

Andaikata pemerintah mengenal kata sales/jualan untuk menghasilkan dan meningkatkan pendapatan pastinya mereka menyadari sangat sulit meningkatkan revenue sehingga mereka pasti lebih berhati-hati merencanakan pengeluaran.

Ps:

Beberapa tahun belakangan ini pariwisata selalu mempromosikan tempat-tempat terbaiknya baik itu promosi ke dalam negeri maupun ke luar negeri. Ada kalanya kita pasti ingin mengunjugi tempat-tempat tersebut, masa yang punya negeri sendiri tidak tahu tempat pariwisata tersebut. Jadi bila ada kesempatan, sesering mungkinlah kita jalan-jalan, apalagi kalau di bayarin😀

Categories: Obrolan Warung Kopi
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: