Home > Obrolan Warung Kopi > Memanusiakan Jakarta

Memanusiakan Jakarta

Sebentar lagi, tepatnya pada pertengah Juli 2012 warga DKI Jakarta akan memilih pemimpin yang baru, pemimpin yang akan memimpin kota mereka untuk 5 tahun ke depan.

Jakarta sebagai ibukota Negara, kota terbesar di Indonesia tak lepas dari segala permasalahan, dengan tingkat kompleksitas yang tinggi, hampir semua permasalahan dapat di temui disini, mulai dari jurang kesejahteraan masyakarat miskin dan kaya, pendidikan, kepadatan lalu lintas, kemajemukan budaya sehingga membuat sekat-sekat berdasarkan suku, tingkat premanisme yang hampir menguasi segala sector, keamanan yang masih jauh dari aman hingga politik. Tak mudah hidup di kota Jakarta, begitu juga tak mudah memimpin Jakarta.

Saya memang sudah lama tidak tinggal di Jakarta, mungkin sudah hampir 9 tahun, tapi saya selalu ke Jakarta dan besar di Jakarta, kampung saya-pun Jakarta. Setiap beberapa bulan sekali saya ke Jakarta, melihat setiap sudut perkembangan Jakarta yang tiada henti, setiap kembali pasti saya melihat selalu saja ada gedung yang baru, gedung yang tidak kalah tinggi dengan yang lain, berlomba-lomba siapa yang punya gedung paling tinggi, seakan-akan ingin menampilkan ego-nya sebagai ibukota Negara.

Jakarta yang sekarang beda dengan Jakarta yang dulu kukenal, hilang keramah tamahan warganya, hampir hilang pesona Jakarta di mata-ku, salah satu yang dikenal saat ini Jakarta adalah kota untuk mencari uang.

Dengan jumlah penduduk 9,6 juta pada tahun 2010, tapi pada siang hari membengkak menjadi 12 juta dikarenakan tambahan komuter. Jika di ibaratkan sebuah kapal, Jakarta sudah sangat overload yang bisa tidak di jaga akan bisa tenggelam. Bila suatu kapal kelebihan muatan ada 2 cara mengatasinya: (1) Pindahkan sebagian muatan ke kapal lain, (2) Ganti kapalnya menjadi lebih besar. Sayangnya opsi nomer 2 tidak mungkin di lakukan, berarti yang harus di lakukan adalah opsi nomer 1.

Apakah muatan yang di maksud disini, muatan adalah segala yang ada di kota Jakarta. Pertama yang pasti adalah penduduk, lalu gedung perkantoran, mall, jalan raya, rumah, kendaraan bermotor, dan yang lainnya. Dengan jumlah masing-masing item di luar batas normal, sehingga cara terbaik adalah mengurangi sedikit demi sedikit muatan yang ada. Selanjutnya saya coba membahas sedikit ‘muatan’ yang di olah dari berbagai sumber.

Dengan luas 740 km²,  dan tingkat kepadatan Jakarta 12.978,2/km² maka tak heran Jakarta menjadi salah satu kota terpadat di dunia. Padahal rasio angka kepadatan penduduk ideal per km2 adalah 6000 jiwa.

*   *   *

Sedikit mari kita berhitung kasar sejenak.

Jakarta begitu sesak, dengan luas hanya 740 km² para penduduknya sebanyak 9,6 juta harus berbagi dengan yang lain terutama dengan benda mati. Gedung, entah berapa banyak gedung bertingkat di Jakarta, Jakarta memang pusat bisnis di Indonesia, gedung perkantoran, menjadi hal yang utama dalam mendukung sector ini, bila kita asumsikan luas semua gedung adalah 10% dari luas Jakarta berarti seluas 74 km².

Kendaraan bermotor-pun tak kalah banyaknya, pada tahun 2011 Polda Metro Jaya mencatat ada 12 juta kendaraan bermotor, mobil 3,1 juta dan motor 8,2 juta. Bila panjang mobil adalah 4 meter dikalikan dengan 3.1 juta, makan bila seluruh mobil di Jakarta di jejerkan akan memangjang sejauh 12.1 juta meter. Begitu juga dengan motor, 2 meter x 8,2 juta = 16.4 juta meter. Dan bila kita jejerkan semua (mobil & motor) maka kita akan mendapatkan pajang 28.5 juta meter.

Untuk “melayani” kendaraan bermotor kita juga harus menyediakan jalan, panjang jalan di Jakarta hanya mencapai 7.650 km adapun luasnya hanya 40,1 juta meter persegi atau 0,26 persen dari luas wilayah Jakarta.

Jakarta merupakan salah satu kota di Asia dengan jumlah pusat perbelanjaan terbanyak, tercatat ada 86 pusat perbelajaan, jumlah yang tidak sedikit. Pusat perbelanjaan, atau dengan bahasa sekarang di sebut mall sering di sebut tempat transaksi uang terbanyak di Jakarta, selain bank. Saat ini mall lebih di fungsikan sebagai pusat perbelanjaan dan rekreasi (instant) bagi para warga Jakarta, tak heran jika pada malam hari selepas kerja para pekerja kantoran memadai mall untuk sekedar untuk makan malam, belanja, bahkan untuk melepas penat. Mall terluas adalah Mall Artha Gading, di Jakarta Utara, mall ini memiliki luas 270.000 m2. Dan bila di asumsikan 1 mall itu seluas 70.000 m², makan total luas 86 mall adalah 6 juta m².

 *   *   *

Saat ini Jakarta lebih memanjakan benda mati dibandingkan dengan mahkluk hidup (manusia, hewan & tumbuhan), memanjakan kendaraan dengan menyediakan jalan yang mulus dan panjang, menyediakan lahan parkir bertingkat untuk keamanan kendaraan, menyediakan lahan untuk gedung bertingkat di lokasi strategis. Sampai saat ini saya masih mencari sejauh mana Jakarta memanjakan penduduknya sebagai manusia. Trotoar yang sempit,  berlubang dan tidak ramah untuk para penggunanya yaitu manusia. Selalu waspada akan tindak criminal di area public, kendaraan umum, dan di rumah yang membuat tidak nyaman para penggunanya yaitu manusia. Taman yang hijau dan ruang public yang sangat sedikit untuk menikmati udara segar untuk para penggunanya yaitu manusia.

Kita lupa, terhadap diri kita sebagai manusia, bahwa kita harus melayani manusia bukan melayani benda mati. saya memimpikan kota Jakarta sebagai kota yang maju di dunia, kota yang memanjakan pendudukanya sebagai manusia.

Semoga dengan pemimpin yang baru bisa menjadikan Jakarta menjadi lebih manusiawi.

gambar saya ambil dari sini
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: