Archive

Archive for the ‘Obrolan Warung Kopi’ Category

Jakarta Sejuk

August 21, 2012 Leave a comment

Pagi ini Jakarta begitu sejuk, jam 8 lebih saya bersepeda motor mengantar istri bekerja ke bilangan SCBD, bekerja? Yup, kerja, perusahaannya tidak mengenal kata cuti bersama hari raya Idul Fitri dan sayangnya dia juga belum bisa mengambil cuti.

Pukul 8 lebih itu saya memacu sepeda motor dengan santai, karena tidak ada kemacetan. Saya sendiri heran, cukup aneh pada jam segini Jakarta begitu sejuk. Memang sudah lebih dari 2 hari ini Jakarta di tinggalkan oleh sebagian besar penghuni-nya pulang ke kampong halaman (mudik) untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri 1433 H, tak ada kemacetan, tak ada polusi, dan mungkin efeknya seperti pagi tadi, udara Jakarta menjadi sejuk.

Sebegitu besar dampak-nya tidak adanya kendaraan (mungkin berkurang lebih dari 85%) bagi udara Jakarta.

Adaikan saja setahun Jakarta seperti pagi ini, udara Jakarta akan menjadi bersih kembali. Dan bila setiap hari Jakarta seperti pagi ini, udara sejuk, tidak ada kemacetan, sungguh nyaman.

“Lets go Green”

 

 

 

Memanusiakan Jakarta

June 22, 2012 Leave a comment

Sebentar lagi, tepatnya pada pertengah Juli 2012 warga DKI Jakarta akan memilih pemimpin yang baru, pemimpin yang akan memimpin kota mereka untuk 5 tahun ke depan.

Jakarta sebagai ibukota Negara, kota terbesar di Indonesia tak lepas dari segala permasalahan, dengan tingkat kompleksitas yang tinggi, hampir semua permasalahan dapat di temui disini, mulai dari jurang kesejahteraan masyakarat miskin dan kaya, pendidikan, kepadatan lalu lintas, kemajemukan budaya sehingga membuat sekat-sekat berdasarkan suku, tingkat premanisme yang hampir menguasi segala sector, keamanan yang masih jauh dari aman hingga politik. Tak mudah hidup di kota Jakarta, begitu juga tak mudah memimpin Jakarta.

Saya memang sudah lama tidak tinggal di Jakarta, mungkin sudah hampir 9 tahun, tapi saya selalu ke Jakarta dan besar di Jakarta, kampung saya-pun Jakarta. Setiap beberapa bulan sekali saya ke Jakarta, melihat setiap sudut perkembangan Jakarta yang tiada henti, setiap kembali pasti saya melihat selalu saja ada gedung yang baru, gedung yang tidak kalah tinggi dengan yang lain, berlomba-lomba siapa yang punya gedung paling tinggi, seakan-akan ingin menampilkan ego-nya sebagai ibukota Negara.

Jakarta yang sekarang beda dengan Jakarta yang dulu kukenal, hilang keramah tamahan warganya, hampir hilang pesona Jakarta di mata-ku, salah satu yang dikenal saat ini Jakarta adalah kota untuk mencari uang.

Dengan jumlah penduduk 9,6 juta pada tahun 2010, tapi pada siang hari membengkak menjadi 12 juta dikarenakan tambahan komuter. Jika di ibaratkan sebuah kapal, Jakarta sudah sangat overload yang bisa tidak di jaga akan bisa tenggelam. Bila suatu kapal kelebihan muatan ada 2 cara mengatasinya: (1) Pindahkan sebagian muatan ke kapal lain, (2) Ganti kapalnya menjadi lebih besar. Sayangnya opsi nomer 2 tidak mungkin di lakukan, berarti yang harus di lakukan adalah opsi nomer 1.

Apakah muatan yang di maksud disini, muatan adalah segala yang ada di kota Jakarta. Pertama yang pasti adalah penduduk, lalu gedung perkantoran, mall, jalan raya, rumah, kendaraan bermotor, dan yang lainnya. Dengan jumlah masing-masing item di luar batas normal, sehingga cara terbaik adalah mengurangi sedikit demi sedikit muatan yang ada. Selanjutnya saya coba membahas sedikit ‘muatan’ yang di olah dari berbagai sumber.

Dengan luas 740 km²,  dan tingkat kepadatan Jakarta 12.978,2/km² maka tak heran Jakarta menjadi salah satu kota terpadat di dunia. Padahal rasio angka kepadatan penduduk ideal per km2 adalah 6000 jiwa.

*   *   *

Sedikit mari kita berhitung kasar sejenak.

Jakarta begitu sesak, dengan luas hanya 740 km² para penduduknya sebanyak 9,6 juta harus berbagi dengan yang lain terutama dengan benda mati. Gedung, entah berapa banyak gedung bertingkat di Jakarta, Jakarta memang pusat bisnis di Indonesia, gedung perkantoran, menjadi hal yang utama dalam mendukung sector ini, bila kita asumsikan luas semua gedung adalah 10% dari luas Jakarta berarti seluas 74 km².

Kendaraan bermotor-pun tak kalah banyaknya, pada tahun 2011 Polda Metro Jaya mencatat ada 12 juta kendaraan bermotor, mobil 3,1 juta dan motor 8,2 juta. Bila panjang mobil adalah 4 meter dikalikan dengan 3.1 juta, makan bila seluruh mobil di Jakarta di jejerkan akan memangjang sejauh 12.1 juta meter. Begitu juga dengan motor, 2 meter x 8,2 juta = 16.4 juta meter. Dan bila kita jejerkan semua (mobil & motor) maka kita akan mendapatkan pajang 28.5 juta meter.

Untuk “melayani” kendaraan bermotor kita juga harus menyediakan jalan, panjang jalan di Jakarta hanya mencapai 7.650 km adapun luasnya hanya 40,1 juta meter persegi atau 0,26 persen dari luas wilayah Jakarta.

Jakarta merupakan salah satu kota di Asia dengan jumlah pusat perbelanjaan terbanyak, tercatat ada 86 pusat perbelajaan, jumlah yang tidak sedikit. Pusat perbelanjaan, atau dengan bahasa sekarang di sebut mall sering di sebut tempat transaksi uang terbanyak di Jakarta, selain bank. Saat ini mall lebih di fungsikan sebagai pusat perbelanjaan dan rekreasi (instant) bagi para warga Jakarta, tak heran jika pada malam hari selepas kerja para pekerja kantoran memadai mall untuk sekedar untuk makan malam, belanja, bahkan untuk melepas penat. Mall terluas adalah Mall Artha Gading, di Jakarta Utara, mall ini memiliki luas 270.000 m2. Dan bila di asumsikan 1 mall itu seluas 70.000 m², makan total luas 86 mall adalah 6 juta m².

 *   *   *

Saat ini Jakarta lebih memanjakan benda mati dibandingkan dengan mahkluk hidup (manusia, hewan & tumbuhan), memanjakan kendaraan dengan menyediakan jalan yang mulus dan panjang, menyediakan lahan parkir bertingkat untuk keamanan kendaraan, menyediakan lahan untuk gedung bertingkat di lokasi strategis. Sampai saat ini saya masih mencari sejauh mana Jakarta memanjakan penduduknya sebagai manusia. Trotoar yang sempit,  berlubang dan tidak ramah untuk para penggunanya yaitu manusia. Selalu waspada akan tindak criminal di area public, kendaraan umum, dan di rumah yang membuat tidak nyaman para penggunanya yaitu manusia. Taman yang hijau dan ruang public yang sangat sedikit untuk menikmati udara segar untuk para penggunanya yaitu manusia.

Kita lupa, terhadap diri kita sebagai manusia, bahwa kita harus melayani manusia bukan melayani benda mati. saya memimpikan kota Jakarta sebagai kota yang maju di dunia, kota yang memanjakan pendudukanya sebagai manusia.

Semoga dengan pemimpin yang baru bisa menjadikan Jakarta menjadi lebih manusiawi.

gambar saya ambil dari sini

Serba Serbi Naik Pesawat

March 29, 2012 2 comments

Bepergian naik pesawat merupakan pengalaman yang unik pada setiap kesempatannya, selalu ada kesan tersendiri yang berbeda . Karena pada setiap penerbangan kita bisa melihat peristiwa menarik bila dicermati dan tentu saja perilaku manusia dengan berbagai macam gaya.

Pesawat sering di identikan dengan transportasi kelas atas, harus yang beduit yang bisa naik ini. karena secara biaya memang tarif untuk penumpang transportasi udara lebih tinggi dibandingkan dengan transportasi darat serta laut. Salah satu penyebabnya adalah tingkat invetasi yang besar dan biaya operasional serta maintenance juga tinggi. Seiring waktu pilihan masyarakat untk menggunakan jalur udara meningkat dikarenakan faktor waktu dan tarif yang semakin turun

Dengan itu semakin banyak yang memilih jalur pesawat, berdampak pada  situasi bandara yang semakin ramai oleh calon penumpang dan pengantar, dan semakin beragam kelas masyarakat yang naik pesawat. Dari wisatawan, pebisnis, karyawan, mahasiswa, perantau, hingga pemudik yang hendak pulang kampung.

Yang membedakan pesawat dan transportasi lainnnya khususnya darat adalah jadwal yang sudah ter-schedule (aneh pilihan katanya 😀 ), sistem informasi yang jelas dari pemesanan tiket yang bisa dibeli secara online, sistem bagasi, sistem kontroling udara sehingga diperlukan manajemen waktu agar semuanya bisa berjalan sesuai jadwal. Dan itu berlaku juga untuk calon penumpang, contohnya setiap penumpang harus hadir min 1 jam sebelumnya sebelum waktu take off untuk proses check in, borading, dan beberapa prosedural yang harus diikuti sebelum kita bisa menaiki pesawat.

Menarik bila kita cermati prosedur-prosedur selama kita menjadi penumpang pesawat, karena kita bisa melihat kejadian menarik, karakter seseorang yang mungkin kita bisa ambil hikmahnya:

1. Pemeriksaaan Tiket Masuk,  pemerikasaan dilakukan oleh perugas bandara, hal menarik adalah antri, banyak yang belum sadar akan proses antri, banyak yang langsung menorobos untuk bisa langsung masuk, selain itu banyaknya pengantar disekitar tempat pemeriksaan tiket sehingga calon penumpang yang ingin masuk menjadi terhambat

2. Proses scan barang, setelah melewati pemeriksaan tiket, lanjut untuk scan barang. Ternyata masih banyak yang susah antri, selain itu yang paling membuat kesal adalah banyak yang sering meninggalkan trolley begitu saja setelah selesai memindahkan barangnya ke mesin scan sehingga calon penumpang yang lain khsusunya yang berada dibelakangnya menjadi terhambat. Unik di Indonesia, banyak sekali calon penumpang yang tidak memasukan Handphone-nya kedalam mesin scan dan dibiarkan oleh petugas bandara sehingga calon penumpang berpikir itu adalah hal yang lumrah. Hhmm… berarti handphone masih menjadi barang yang tidak dicurigai bila terjadi sesuatu.

3. Proses Check in, mengantri sering kali tidak teratur dan yang benar-benar mengesalkan adalah ketika selesai memasukan barang kedalam bagasi mereka meninggalkan trolley begitu saja seakan-akan menjadi hal yang lumrah.

4. Pembayaran Airport Tax, jarang menjadi kendala, karena pada saat ini calon penumpang lebih santay karena proses check in telah selesai.

5. Masuk Boarding Room, sama seperti point sebelumnya, jarang ada kendala. Point minus kembali ketika proses scan barang, masih jarang handphone itu masuk kedalam mesin scan, tapi ini hanya terjadi dibeberapa bandara saja.

6. Cek Boarding Pass, pemerikasaan tiket untuk naik pesawat yang dilakukan oleh petugas maskapai Antri kembali menjadi hal yang susah dilakukan, para penumpang berlomba-lomba ingin masuk duluan agar bisa dengan leluasa menaruh barang dan menghindari antri yang panjang. Sayang sekali pada point ini petugas maskapai tidak melakukan cek barang bawaan yang dimasukan kedalan cabins, sering dilihat bahwa banyak penumpang yang mambawa barang bawaannya kedalam cabin.

7. Naik Bus (tidak setiap saat), hanya ketika pesawat berada jauh. Ketika naik bus dari bandara menuju pesawat sering penumpang berdiri di dekat pintu sehingga menghambat penumpang lain yang ingin naik juga, alasan mereka adalah cepat turun agar bisa cepat naik ke pesawat.

8. Masuk Pesawat, disinilah yang paling menarik. Antri lagi-lagi menjadi problem, tapi ketika sudah ada dipesawat kita dipaksa antri karena jalurnya diantara bangkun memang hanya muat untuk 1 orang. sering juga ketika salah satu penumpang ingin menaruh koper atau tas di cabin pesawat, karena tak sabar penumpang yang dibelakangnya dengan tidak sabar langsung menerobos.

Selain itu disini kita bisa liat cukup banyak penumpang yang membawa banyak sekali barang bawaan ke dalam cabin, padahal barang tersebut harus di bagasi. Sering kali alasan penumpang adalah jika dimasukan bagasi cukup memakan waktu untuk proses pengambilannya, itu bisa di maklumi, terkadang penulis juga membawa 1 koper kecil dan 1 tas ke cabin. Tapi dengan alasan juga mereka akhirnya menambahkan tas-tas yang lain, membawa 3-4 tas jinjing cukup besar, tapi yang paling saya heran adalah ada yang membawa bedcover kedalam cabin, padahal ukuran bedcover cukup besar dan bukanlah barang yang mudah pecah. Paling unik adalah perjalan dari Bali karena dapat dipastikan cabin pasti full karena penumpang membawa oleh-olehnya ke cabin.

*  *  *

Dampak dari banyaknya semakin banyaknya yg memakai jalur transportasi udara harus dibarengi oleh peningkatan fasilitas, terutama adalah kapasitas bandara. Untuk kota Jakarta, saat ini sudah ada rencana pembangunan untuk perluasan bandara Soekarno-Hatta, saat ini bila kita perhatikan, semakin lama bandara Soekarno-Hatta khususnya terminal 1 semakin mirip terminal bus antar kota. Tak hanya ramai, tapi etika calon penumpang dan yang mengantar tidak layak. Antri adalah hal tersulit dilakukan oleh banyak masyarakat indonesia, tak peduli dia mempunyai gelar sarjana, master, punya mobil mercy, BMW atau jaguar tetap saja perilaku-nya minus ketika ia tidak bisa mengantri. Ini juga berlaku untuk penulis yang terkadang enggan mengantri.

Mari budayakan antri, sebagai cerminan masyarakat yang ramah dan sebagai calon bangsa yang maju 🙂

Leave Your Gadget

February 1, 2012 Leave a comment

Peran teknologi sungguh tidak tergantikan saat ini, kita tidak bisa hidup tanpa teknologi, kita harus membawa teknologi dan kita selalu di kelilingi oleh teknologi. Istilah kuper, tidak up to date, selalu menjadi momok yang tidak menyenangkan bagi orang-orang dengan tingkat pergaulan dan eksitensi yang tinggi sehingga mereka memilih untuk membawa teknologi agar mereka selalu up to date. For real they don’t exactly need that.

Awalnya teknologi adalah untuk mempermudah hodup kita, tapi saat ini malah kita bergantung pada-nya dan tidak bisa hidup tanpa teknologi. Smartphone, blackberry, iphone, ipad, notebook, tablet pc dan yang lainnya sudah menadi daftar barang bawaan yang wajib kita bawa. Semua kebutuhan hidup dan pekerjaan kita bergantung padanya. Kehidupan pribadi dan kehidupan sosial kita hanya berada pada layar datar yg kita pegang, dan tanpa disadari kita menjadi talk-less, face-less, write-less, read-less, dan social-less. And no more physical interaction.

Awalnya ketika mempunyai gadget tersebut kita seketika menjadi orang yang keren, orang yang high tech, selalu up to date dan merasa derajat kita naik. We became online anytime & anywhere dan tanpa disadari kita semakin jauh dari orang-orang didekat kita, teman kita hanyalah gadget-gadget, tanpa disadari bunyi yang selalu dinanti adalah bunyi notifikasi incoming message seolah ada kehidupan yang datang menghampiri dan tak sabar ingin membacanya.

Ini juga terjadi padaku, candu pada gadget, tak bisa lepas dari Blackberry dan lapto. Kusadari ternyata sungguh tidak nyaman hodup dalam sebuah layar yang tidak lebih besar dari 5 inch. Sudah beberapa bulan ini aku mulai membatasi diri untuk terlepas dari mereka (gadget), dan saat ini hanya blackberry saja yang hampir selalu kubawa kemana-mana tapi intensitasnya sudah jauh berkurang, terlebih apabila aku sedang berada bersama teman-teman atau dengan orang terdekat. Aku sadar bahwa aku berhutang pada mereka (orang-orang), berhutang bersosialisasi, berhutang interaksi, berhutang senda gurau, berhutang cerita, dan berhutang mendengarkan kisah mereka. Laptop, aku tinggalkan selalu di kantor selepas jam kerja, terkecuali pada waktu week end untuk kebutuhan lain jika diperlukan. Aku tidak ingin membawa pekerjaan kantor ke rumah walaupun itu belum selesai, I want to try that my life is not my work.

Aku ingin kembali merutinkan membaca buku yang terganggu oleh kehadiran blackberry karena sibuk untuk bersosialisasi secara virtual. Buku yang bukan dibaca pada sebuah layar, not an article that read on web. Sebuah buku dimana kita mendapatkan suasana berbeda, kenyamanan ketika memegangnya, saat telapak tangan memegangnya bunyi kertas yang renyah ketika berpindah halaman.

Just once for a while, leave your gadget and be human again once more 🙂

Categories: Obrolan Warung Kopi

Wawancara Reporter TV

January 6, 2012 Leave a comment

Tergelitik tadi pagi (6/1/12) menonton salah satu tayangan berita oleh salah satu stasiun tv swasta yang menyiarkan tentang produksi dalam negeri yang sedang marak dibicarakan, mobil hasil karya siswa SMK yang menjadi mobil dinas Walikota Solo. Ketika itu reporter stasiun TV swasta tersebut mewawancarai Walikota Solo, kurang lebih potongan wawancaranya seperti ini :

Reporter TV      : setelah menggunakan mobil hasil karya SMK bagaimana rasanya pak?
Walikota Solo    : nyaman, AC-nya dingin, kursinya empuk, larinya kencang.
Reporter TV      : yang kami dengar katanya suspensi-nya kurang bagus pak? Bagaimana itu?
Walikota Solo    : ya namanya segala sesuatu yang baru tidak ada yang sempurna, perlahan-lahan akan ada peningkatan disemua sisi.

Ada hal yang “menarik” pada wawancara tersebut, Reporter TV secara persuasif mengkonlusikan secara pesimis suatu berita tanpa bertanya kepada yang di wawancarai. Dalam hal ini terlihat ketidak netralan sang Reporter TV dalam menyiarkan suatu berita.

Tersenyum sendiri mendengar wawancara tersebut, kok bisa ya tayangan tesebut disebut siaran berita.

Setelah ini, sesuai dengan ciri khas bangsa Indonesia yang selalu ikut-ikutan dan tak mau kalah, akan lebih banyak lagi siaran dan pemberitaan tentang produk dalam negeri. Ya seperti saya ini…hehehe

Categories: Obrolan Warung Kopi Tags:

Pegawai Negeri Sipil

October 27, 2011 Leave a comment

Pegawai Negeri adalah pegawai yang telah memenuhi syarat yang ditentukan, diangkat oleh pejabat berwenang dan diserahi tugas dalam suatu jabatan negeri (id wikipedia). Pegawai negeri di indonesia terdiri dari : (1) Pegawai Negeri Sipil, (2) Anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI), (3) Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI). Pegawai Negeri Sipil atau biasa kita sebut PNS adalah pegawai negeri yang bekerja pada lembaga pemerintahan, baik pemerintah pusat maupun daerah.

PNS adalah salah satu tempat bekerja (I don’t wanna call it profession, because it doesn’t do something specific) yang paling diminati oleh masyarakat Indonesia. Alasan paling utama adalah kepastian penghasilan yang di dapet setiap bulannya pada masa bekerja dan setelah pensiun, dan yang paling utama adalah terhindar dari ancaman pemecatan. Dengan 2 alasan utama inilah masyarakat pada setiap tahunnya ketika ada tes masuk PNS berbondong-bondong mendaftar agar bisa mendapatkan status ini bahkan semenjak bangku sekolah cita-cita mereka adalah menjadi PNS. Jumlah peminat PNS pada setiap tahunnya semakin meningkat terutama yang berada pada daerah non ibukota dan non kota besar karena status PNS dipandang tinggi oleh masyarakat karena dipastikan akan mendapatkan banyak kemudahan dan kenyamanan hidup hingga hari tua.

Tidak ada yang salah untuk menjadi PNS, tujuan mereka sama dengan kita dan saya sendiri adalah untuk mencari nafkah, uang untuk menjalani hidup dan beribadah. Bahkan sebetulnya PNS itu adalah tugas yang mulia karena mereka (PNS) adalah pegawai yang bekerja pada sektor pemerintahan, bekerja membangun negara. Tapi sayangnya kontribusi mereka terhadap pemerintah daerah dan negara tidak sebanding dengan imbalan (gaji) yang mereka terima, or I like to call it as Overpaid.

Bagi sebagian orang lagi, mendengar kata PNS adalah orang yang malas. The fact is, banyak orang yang bekerja sebagai PNS adalah orang yang malas, dalam hal ini malas bekerja. Tapi tidak semua PNS seperti ini hanya banyak dan mendominasi. Ada beberapa alasan mengapa mereka malas bekerja : (1) Tidak tahu pekerjaan mereka, (2) Tidak mengerti pekerjaan/ tugas mereka dan akhirnya tidak di kerjakan. Dalam hal ini bisa disebut malas berusaha, (3) Ikut-ikutan malas karena yang lain juga malas dan akhirnya menjadi kebiasaan, (4) Karena mereka memang malas. Sangat tidak produktif-nya kinerja mereka didukung pula dengan kebijakan pemerintah secara ambigu mengenai pemecatan PNS dan sepanjang sejarah hampir tidak adalah pemecatan seorang PNS dengan alasan malas bekerja.

Sangat di sayangkan hal ini semakin berkembang, terlalu banyak hal negatif yang terus bermunculan di masyarakat dan anehnya semakin banyak pula yang bercita-cta jadi PNS, hukum baru telah berlaku, “sesuatu yang kurang disukai belum tentu tidak di minati”.

Selain faktor dari individu seorang PNS seperti yang di jelaskan di atas, peran dari pemerintah pusat dan pemda juga sangat besar. Pemerintah sendiri juga yang membiarkan budaya malas terus berkembang hingga mengakar, pemerintah juga tidak berani tegas untuk memberhentikan seorang PNS dengan kinerja yang sangat rendah. Di sisi lain penerimaan untuk menjadi PNS semakin banyak setiap tahunnya. Ada alasan tersendiri pemerintah membiarkan ini yang sangat jarang kita tahu, alasan pengangguran, pada setiap tahunnya penggangguran bertambah dan pemerintah bertanggung jawab atas penambahan pengganguran ini, salah satu tindakan yang dilakukan pemerintah adalah menyerap mereka sebagai tenaga kerja yang bekerja untuk mereka dengan menjadi PNS. Dan begitu juga bila pemerintah memberhentikan seorang PNS berarti mereka menambah seorang pengangguran. (info yang belum valid).

Bila hal tersebut dilakukan pemerintah, sangat disayangkan sekali langkah yang mereka lakukan adalah langkah jangka pendek saja dan hanya mengejar sebuah angka bahwa pengangguran telah berkurang tanpa memikirkan dampak yang besar dibelakangnya, dampak bahwa uang negara sia-sia untuk menggaji seorang yang tidak produktif. Dan andai saja pemerintah adalah sebuah korporasi nasional yang selalu melihat dan berorientasi pada cost and revenue, sudah dipastikan korporasi ini sudah dalam kategori bangkrut karena produktifitas pegawai yang sangat rendah sehingga pencapaian revenue yang tidak significant sedangkan cost yang dikeluarkan sangatlah besar terutama untuk cost beban pegawai.

Gambar diambil disini

Categories: Obrolan Warung Kopi

Andaikan Pemerintah Mengenal Kata Bangkrut

September 21, 2010 Leave a comment
Suatu hari Adi bertanya kepada bapaknya, “Pah, boleh ga Adi di belikan tas baru?”
“memang tas yang lama kenapa di? Sudah rusak ya?”,
“belum sih pah, tapi tas-nya uda ga keren lagi, teman-teman pake tas yang lebih keren”,
“nanti ya di, kalau kamu dapet rangking satu papah belikan”
“wah benar yap ah, janji ya….?”
“iya, papah janji asalkan kamu janji belajar yang rajin”

Di tempat lain

“yah, Tono mau jalan-jalan ke Dufan?”, rengek Tono
“Mau apa kamu kesana?”, teman-teman sudah pada kesana semua, masa Tono belum pernah kesana
“aduh nak, kamu seperti tidak tahu kondisi keluarga kita, kita tidak punya duit untuk jalan-jalan kesana, nanti saya ya, kalau akhir tahun ada sisa uang”,
Tono diam saja dengan cemberut…

* * *

Kedua cerita di atas merupakan sebuah ilustrasi yang pastinya sering kita dengar sehari-hari di sekeliling kita dalam satu keluarga, permintaan seorang anak kecil kepada ayahnya. Dan seorang ayah tidak begitu saja memberikan apa yang anak-anak mereka minta dengan melihat beberapa pertimbangan.

Keluarga merupakan sebuah organisasi berprofit terkecil dan tersederhana dalam kehidupan kita. Beranggotakan minimal 2 orang hingga 10 secara rata-rata. Kenapa berprofit, karena dalam organisasi ini di butuhkan penghasilan untuk membiayai pengeluaran mereka sehari-hari, seminggu kedepan, sebulan, setahun, hingga satu decade kedepan. Ayah, sebagai pemimpin dan juga seorang pemimpin organisasi ini mempunyai kebijakan mutlak untuk hampir semua keputusan dalam organisasi ini, dari hal terkecil hingga terbesar, dari jangka panjang sampai jangka panjang. Tentu saja ayah tidak semena-mena mengabulkan semua permintaan untuk sebuah pengeluaran, di dampingi oleh seorang perdana mentri, dalam hal ini ibu, mereka membicarakan dengan matang rencana-rencana mereka. Mereka tidak ingin organisasi berprofit ini di nyatakan bangkrut, karena sumber penghasilan mereka terbatas. Dalam singkat kata bisa kita katakan organisasi ini mempunyai pendapatan dan pengeluaran langsung. Karena mereka sendiri yang mecari sumber dana, merencanakan, dan mengeluarkan dana tersebut.

Tak hanya dari sisi keuangan saja yang organisasi ini pikirkan, aspek agama, pendidikan, keamanan, kesejahteraan, perilaku, facility, dan lainnya. Dan tentu saja kedua pemimpin juga memikirkan hasil dari semua aspek.

* * *

Sedangkan organisasi terbesar dalam satu Negara adalah pemerintah, beranggotakan ribuan puluh orang, mempunyai tingkat strata yang sangat banyak dalam organisasi ini.

“bandingkan dong man..?”, ok, akan kami bandingkan.

Dalam hal ini pemerintah kami anggap sebagai organisasi setengah profit, dengan alasan organisasi ini mempunyai outcome yang jelas dan secara langsung dan tak langsung karena selain untuk rakyat mereka juga ikut merasakan sendiri pengeluaran itu. Tapi organisasi ini mempunyai income tidak langsung karena mereka mendapatkannya income ini dari pajak. Secara konseptual dan pelaksanaan harusnya organisasi ini lebih teroganisir karena berisikan orang-orang yang ahli di bidangnya masing-masing dan tentu saja ada badan pengawas yang bertugas mungkin mengawasi semua.

Mari kita kembali ke pokok permasalahan, yaitu keuangan. kami memang bukan ahli keuangan, tapi aku tahu hal adalah dalam masa-masa sulit saat ini pengeluaran tentu menjadi hal yang sangat di perhatikan, suatu organisasi berprofit akan lebih memperhatikan tujuan dan mafaat serta dampat dari pengeluaran ini. Tapi tentu saja hal ini tidak berlaku untuk (tidak semua) organisasi non-profit atau setengan profit, dengan kekuatan income yang tidak terbatas mereka bisa melakukan perencanaan pengeluaran yang cukup bisa di katakan besar tanpa harus memikirkan kekurangan anggaran pada masa mendatang.

Berarti bisa di katakan bahwa pemerintah sebagai organisasi terbesar itu dalam merencakan anggaran pengeluaran itu seenaknya ?. Kami tidak berbicara seperti itu, ada satu point dimana hal itu benar, tapi yang kami lihat adalah seseorang atau suatu organisasi bila mempunyai sumber dana yang tidak terbatas maka perencenaan pengeluaran akan lebih leluasa mengaturnya.

* * *

Andaikata pemerintah sebagai organisasi terbesar di Negara ini mengenal kata bangkrut, kami yakin mereka akan lebih bijak menggunakan dan mengeluarkan anggarannya.

Andaikata pemerintah mengenal kata sales/jualan untuk menghasilkan dan meningkatkan pendapatan pastinya mereka menyadari sangat sulit meningkatkan revenue sehingga mereka pasti lebih berhati-hati merencanakan pengeluaran.

Ps:

Beberapa tahun belakangan ini pariwisata selalu mempromosikan tempat-tempat terbaiknya baik itu promosi ke dalam negeri maupun ke luar negeri. Ada kalanya kita pasti ingin mengunjugi tempat-tempat tersebut, masa yang punya negeri sendiri tidak tahu tempat pariwisata tersebut. Jadi bila ada kesempatan, sesering mungkinlah kita jalan-jalan, apalagi kalau di bayarin 😀

Categories: Obrolan Warung Kopi