Archive

Archive for the ‘Storytelling’ Category

Serupa Tapi Tak Sama

July 24, 2012 Leave a comment

Setiap perjalanan mempunyai ceritanya sendiri, tak ada hal yang berulang untuk hal yang sama.

Sudah puluhan kali saya bepergian dari dan menuju tujuan yang sama, entah itu perjalanan darat, laut ataupun udara. Selalu saja ada yang berbeda, ada cerita tersendiri pada setiap perjalannanku ini walaupun untuk rute yang sama.

Sering cerita masa lalu datang menghampiri dalam perjalanan ini, angan masa depan sesekali terbayang, dan inspirasi sesekali mengunjungi.

Tak ada salahnya ku tulis cerita ini, mungkin saja akan menjadi inspirasi bagi orang lain 🙂

Advertisements
Categories: Storytelling Tags: ,

Titik Jenuh

November 21, 2011 Leave a comment

Pernahkah anda merasa bosan dengan semua media digital, merasa jemu anak semua teknologi, konektifitas dan gadget yang mengelilingi anda.

You always connected to everyone in everywhre at everytime, and what we are loosing? Privacy. Yup, we area lost our privacy.

Our name can be find on google, just pick up the phone when our bos needed us, we always checking our inbox, messages, and miss called. And when do we have time for ourself?

Categories: Storytelling

Pagi

November 15, 2011 Leave a comment

Sudah beberapa minggu kebelakang saya selalu berusaha untuk lebih pagi masuk kantor, biasanya saya masuk jam 08.00 – 08.30 pagi, berusaha untuk 07.40 – 08.00. Dan ternyata dampaknya sangat menyenangkan, saya tidak lagi terburu-buru mengerjakan pekerjaan yang tertunda ketika tiba di kantor sehingga saya bisa menyusun apa yang akan dikerjakan hari ini, jalanan-pun masih belum begitu macet, dan yang paling penting adalah otak masih fresh bahkan banyak ide keluar dipagi hari.

Bila teman-teman ingin menulis suatu ide atau menuangkan suatu kreasi dipagi hari, ketika sampai kantor janganlah membuka email, berkas pekerjaan yang kemarin yang belum terselesaikan karena pastinya ide tersebut akan langsung hilang karena melihat pekerjaan yang harus diselesaikan.

Selamat pagi teman-teman, mari kita biasakan bangun dan berangkat lebih pagi 🙂

Categories: Storytelling

Our Milestone

March 6, 2011 2 comments

Suatu minggu pagi yang cerah, dan sangat cocok untuk bermalas-malasan aku menyalakan YM (Yahoo Messanger) –ku. Tiba-tiba saja ada IM (Instant Message) datang dari seorang teman SMA, dia menanyakan kabar dan sedang berada dimana, katanya: “kok jarang online sekarang?”. Memang, sudah beberapa bulan kebelakang aku memang jarang sekali online, dan kalaupun online lebih memilih status invisible. Ya terkadang kita jemu juga dengan koneksi yang ada.

Temanku itu bertanya, bagaimana rasanya tinggal diluar pulau Jawa untuk hidup. Memang selama lebih dari 20 tahun temanku ini selalu tinggal di Jawa, khususnya di kota Jakarta dan keluar Jawa-pun hanya sebatas liburan dan pastinya Bali pernah dikunjunginya.  Aku kembali bertanya kenapa/ apa alasannya ingin tinggal diluar Jawa, dia menjawab, untuk ganti suasana, refreshing dan berpikir juga ingin hidup dikota yang tidak pernah dia pikirkan sebelumnya.

* * * * *

Ada beberapa temanku yang menanyakan hal serupa seperti diatas, mereka ingin mencoba peruntungan diluar kota, diluar pulau dangan alasana yang beragam tapi yang paling banyak adalah bosan dengan kota, lingkungan yang ada, dengan segala hiruk pikuk di kota tersebut. Serta ada juga yang ingin merasakan pengalaman berbeda dengan apa yang ia dapat selama ini.

Kota yang dituju untuk di tinggali saat ini tak pernah ada dalam bayanganku, Tuhan telah menentukan sebuah titik dimana ak harus tinggal, sering kali kita bertanya dalam hati: “kenapa harus aku yang berada disini”. Tapi Tuhan punya rencana lain yang tidak pernah kita ketahui dan kita harus mencari jawabannya sendiri.  Pernah ada seorang teman perjalananku berkata : “kita harus bersyukur dimana pun kita berada, ada kalanya kita ingin mencari rejeki dikota yang kita inginkan, tapi ternyata rejeki kita ada di kota lain. Belum tentu jika kita memaksakan hidup dan mencari rejeki di kota yang kita inginkan akan mendapatkan sama atau bahkan lebih dari yang kita dapat saat ini.”

Sudah lebih dari 9 tahun aku hidup sendiri (tidak dirumah) dan sudah lebih dari 7 tahun aku hidup diluar kota dari kota tempat tinggal orang tuaku berada. Banyak ragam perjalanan kulalui, dan selamanya manis dan tidak selamanya pahit. Tuhan telah memberikanku sebuah kehidupan yang penuh makna dalam 25 tahun lebih dari usiaku saat ini. Hidup di kota orang tidak selama menakutkan tapi tidak juga selamanya menyenangkan, selalu ada warna-warni dalam setiap  harinya, warna hitam, warna putih hingga warna abu-abu.

Banyak yang harus kusyukuri hingga saat ini, tapi sering aku melupakannya, lupa akan semua yang telah Dia berikan kepadaku. Aku telah mendapatkan banyak hal yang tidak bisa dibeli oleh uang, pengalaman yang sangat berharga yang belum tentu orang lain punya. Walaupun sering kita mengecewakan-Nya, sering meragukan bahwa keadaanku saat ini memang benar kehendak-Nya.

Jujur, cukup lama aku belajar untuk bisa menerima bahwa aku memang harus berada pada titik ini. Terus belajar untuk mencari jawaban bahwa apa yang aku harus cari disini dan belum saatnya aku untuk pergi, tak terhitung berapa malam ku terus merenung. Tapi setelah kutemukan ternyata semua itu sangatlah indah.

Semua hal yang ada didunia bukanlah kita yang menentukan, manusia hanya bisa berusaha untuk menjadi yang lebih baik 🙂

Our milestone is never as we are expected. But it made us like who we are now.

 

gambar diambil dari sini
Categories: Storytelling

Semangat

February 15, 2011 Leave a comment

Sudah ±5 bulan lamanya saya tidak pernah posting di blog. Kesibukan, kejenuhan, dan kemalasan sebetulnya bukan alasan, tapi apalagi yang bisa dikatakan bila memang itu penyebabnya. Keengganan-lah penyebab utamanya, enggan untuk memulai, enggan untuk menyelesaikan, keengganan untuk focus pada apa yang dikerjakan.

Semoga dibulan Februari menjadi awal bulan pada thaun ini untuk terus memotivasi dengan berbagai macam bentuk untuk terus semangat dalam berbagai aktivitas..…. amin 🙂

Categories: Storytelling

Ramadhan 1431H

September 14, 2010 Leave a comment

Ini postinganku yg aneh, baru post ketika momentnya sudah terlewati, tapi tidak apa-apa deh. Ramadhan 1431H atau tepatnya tahun 2010 pada kalender masehi. Tentu saja pada Ramadhan kali ini aku juga berusaha lebih baik dari tahun kemarin tapi tampaknya belum berhasil :D.  Selalu saja ada berbagai macam alasan yang membuatku malas. Dan sama seperti Ramadhan tahun-tahun sebelumnya, kali ini pun melaksanakan sendiri dan tanpa keluarga.

Tapi pada kali ini aku teringat sesuatu, ternyata ramadhan tahun ini adalah ke 10 kali-nya atau lebih aku melaksanakan puasa sendiri tanpa keluarga atau orang tua. Wah, wah…ternyata cukup lama juga ya. Aku sendiri baru sadar pada saat obrolan dengan teman-teman kantor yang notaben-nya juga orang rantau. Pada satu topic  ketika di Tanya:

“ini puasa keberapa kamu jauh dari orang tua?”, Tanya seorang teman

Yang lain menjawab,

“kedua”, “ketiga”, “kelima”,

“kalau kamu man?, keberapa kali?”

Beberapa saat mikir, sambil ngitung dengan ibu jari…

“dua….empat…tujuh…sepuluh, sepuluh, seingetku ke sepuluh kali”, ucapku

“gile banyak juga ya”

Sebelumnya aku tidak pernah memperhatikan hal seperti ini, tapi bagi sebagian orang hal ini cukup berarti, terutama bagi yang terbiasa dengan orang tua.

Kalau aku pastinya ingin sekali puasa bersama mereka.

Categories: Storytelling

Un-expected in Bali

September 9, 2010 Leave a comment

Sungguh luar biasa Bali bagi banyak orang, sebutan pulau dewata memang cocok untuk mereka. Pusat segala macam wisata ada di Bali, bagi yang ingin berbulan madu, mencari ukir-ukiran, berjemur di pantai, liburan keluarga atau rombongan, wisata seni, wisata budaya atau hanya sekedar jalan-jalan saja. Why is it called the amazing Bali. Tapi saat ini aku tidak menceritakan tentang keindahan wisata Bali, tapi sesuatu yang lain.

Pada kunjunganku ke Bali kali ini, Senin lalu 4 hari menjelang hari raya Idul Fitri, sungguh mengejutkan, ternyata ada 2 teman dekatku pada waktu kuliah sedang di Bali. Yang pertama bernama Anugrah Perdana atau Agah, dia ternyata pindah ke Bali dan baru menetap selama 2 bulan disana bersama istrinya meneruskan bisnis keluarganya dengan memulai me-manage cabang yang ada di Denpasar ini. Temanku yang satu ini memang tergolong entrepreneur sejati, memulai bisnisnya semenjak dari SMA, ketika kuliah mulai mengembangkannya dengan system yang lebih professional dan hingga lulus tidak ada niat sedetik-pun untuk melamar pekerjaan untuk menjadi seorang pegawai.

Yang kedua bernama Ficky Yoga, status, menikah mempunyai anak 1, bekerja di industri telekomunikasi dan saat ini sedang dicoba oleh Allah dengan menempatkannya di kota Kupang, Nusa Tenggara Timur dan berada jauh dengan istri dan anaknya. Yang satu ini sangat pintar tak jauh berbeda dengan Anugrah, ketika kuliah urusan nilai tidak perlu di pertanyakan pasti mendapat nilai yang paling bagus.

Malam itu aku di jemput Agah untuk makan bersama, sudah setahun lebih aku tak berjumpa dengannya terakhir pada saat dia menikah. Di perjalanan kami bercerita banyak mengejer hal-hal dan berita yang tertinggal selama setahun lebih tapi malam ini dia kurang fit karena 2 hari yang lalu sakit. Tak lama kemudian sampailah kami di salah satu rumah makan, (maaf saya kurang tahu daerahnya), sengaja kami pilih rumah makan itu karena teman kami yang satu lagi sedang menghadiri acara di rumah makan tersebut sehingga aku dan Agah makan disana sekaligus menunggu si Ficky menyelesaikan acaranya.

Tak lama kemudian Ficky-pun bergabung, pembicaraan semakin hangat dan tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 10 malam, kami menuju toko Agah untuk menutup toko tersebut. Sambil menunggu Agah menutup toko, aku dan Ficky menyambung pembicaraan kami diluar dan sesekali agah-pun bergabung bersama kami. Karena di antara kami bertiga yang mempunyai jam malam saat itu adalah Agah mau tak mau kami tidak bisa berlama-lama, sambil mengantar Ficky menuju hotelnya di daerah Kuta kami meneruskan obrolan kami di mobil.

Dulu kami bertiga sempat mempunyai satu niatan untuk mempunyai usaha bersama ketika awal kuliah, tapi di karenakan kesibukan dan prioritas masing-masing hal tersebut tidak pernah terlaksana. Dan yang akhirnya yang benar-benar menjadi entrepreneur adalah si Agah. Diantara kami bertiga yang mempunyai darah seorang entrepreneur adalah Agah dan Ficky, mereka mendapatkannya dari ayah mereka. Satu hal yang lagi yang kami anggap lucu adalah ketika waktu kelulusan (wisuda), kami baru sadar ternyata laki-laki di kelas kami ada 3 orang yang di wisuda dan tiga-tiga adalah kami dan 3 tahun kemudian ketika kami bisa berkumpul kami-pun berkumpul bukan di almamater kami, bukan pula Bandung, dan tentu bukan pula di pulau Jawa tidak pula dengan kondisi yang sama, but totally in different status and condition.

Kami bertiga berkumpul, dalam keadaan yang berbeda, mempunyai satus yang berbeda, tapi tetap mempunyai impian yang sama, “suskes di bidangnya masing-masing”. Kami berjanji untuk berkumpul kembali dan hope that will be in the same year.

gambar di ambil dari sini

Categories: Storytelling