Archive

Archive for the ‘Traveling’ Category

House of Sampoerna

December 20, 2011 Leave a comment

Pada Oktober 2010, berarti tahun lalu saya menyempatkan diri untuk mengunjungi kota Surabaya, sudah beberapa kali aku transit disini tapi belum pernah melihat kotanya. Karena perjalanan dari kota Mataram mengharusnya pesawat transit di Surabaya maka saya mencoba untuk menginap 1 malam disini dan esok malam baru melanjutkan perjalanan ke Makassar.

Sabtu siang itu saya tertarik untuk mengunjungi museum rokok, yaitu House of Sampoerna yang berada di Taman Sampoerna 6, Surabaya. Beruntung kunjungan saya pertama kali ke Surabaya di temani seorang teman, sehingga tidak perlu bersusah payah mencari trayek bus 😀

Bangunan luar tampak mengesankan, bangunan lama dengan arsitektur Belanda yang di bangun pada tahun 1862. Ketika masuk kedalam bangunan saya langsung di sambut oleh bau cengkeh dan tembakau yang menusuk hidung, jadi bagi anda sekalian yang tidak tahan bau rokok dianjurkan membawa sapu tangan untuk menutup hidung. Di bagian dalam ruangan di pajang foto-foto keluarga Sampoerna, kliping berita tempo doeloe, barang-barang antik sebagai bukti perjuangan keluarga sampoerna dalam menjalani bisnis-nya.

Dilantai 2, kami tidak boleh mengambil gambar. Disana merupakan tempat penjualan merchandise Sampoerna, dan yang paling mengesankan adalah bisa melihat tempat para pekerja yang sedang mem-produksi rokok kretek, tapi karena sudah Sabtu siang tidak ada pekerja yang masuk. Menurut info, buruh yang rata-rata wanita tersebut dalam 1 jam dapat melinting 300an batang rokok.

Tak hanya museum, disini juga terdapat restoran dengan gaya tempo doeloe dan galery yang terletak dibelakang restoran. Yang saya suka adalah, kita bisa jalan-jalan keliling kota Surabaya dengan bis Surabaya Heritage yang disediakan cuma-cuma oleh Sampoerna, untuk jadwalnya bisa dilihat di web resminya.

Salute for Sampoerna, berharap semua museum di Indonesia bisa meniru. Save our heritage 🙂

Note:

  1. Karena berada di kota, tidak perlu mempersiapkan sesuatu yang khusus.
  2. Bila tidak ingin repot, dianjurkan menggunakan taksi menuju tempat ini.


Categories: Traveling

Karst Maros

December 9, 2011 Leave a comment

Maros merupakan salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan, hanya berjarak 1 jam perjalanan dari kota Makassar (Ibukota Sulawesi Selatan). Maros, juga terkenal dengan tempat 2 pabrik semen yaitu Tonasa dan Bosowa, selain itu ada satu pegunungan batu yang sangat indah dan eksotik, yang biasa disebut Karst Maros.

Karst adalah sebuah bentukan di permukaan bumi yang pada umumnya dengan adanya depresi tertutup, drainase permukaan, dan gua. Daerah ini dibentuk terutama oleh permukaan batuan, kebanyakan batu gamping (sumber).

Pada akhir September 2011 saya berkesempatan mengunjungi satu situs wisata yang mengandung nilai sejarah. Karst Maros merupakan deretan gugusan tebing cadas terbentang seluas 43,750 ha. Terletak di jalur poros lintas propinsi Makassar-Parepare, merupakan salah satu jalur tersibuk dilintas Sulawesi ini. Tempat yang sangat eksotik, deretan tebing batu yang dipadukan oleh keindahan alam hijau. Masih terasa pesona mistis di tempat ini, gua batu penuh dengan peninggalan prasejarah adalah satu bukti yang terdapat pada Karst di Maros, sisa peninggalan berupa gambar-gambar yang diyakini ditulis oleh manusia purba.

Diantara bebatuan terdapat sungai-sungai kecil sebagai akses untuk mencapai salah satu gua dan harus menggunakan perahu yang disewa. Persawahan merupakan medan lain yang harus ditempuh. Salah satu gua yang paling banyak dikunjungi adalah Gua Telapak Tangan, karena di gua ini terlihat jelas gambar-gambar dari jaman prasejarah (yang diyakini seperti itu)

Patut disayangkan, objek wisata kelas dunia ini masih belum banyak dikunjungi, karena belum banyak diekspos. Potensi keunikan, eksotisme dan peninggalan bersejarah membuat tempat ini termasuk daftar layak dikunjungi. Kunjungan saya kesana malah bertemu beberapa orang bule, dan tidak bertemu orang Indonesia yang menjelajahi tempat ini. its to bad.

Lets learn more about beauty of Indonesia 🙂

Notes :

  1. Untuk mencapai kawasan, dengan menggunakan jalur darat dari kota Makassar menuju arah Maros, masuk ke pabrik semen Bosowa, sekitar 200 meter ada gardu listrik belok ke kiri, ikuti jalan. Bila tanya ke penduduk setempat bilang saja, mau melihat gua-gua.
  2. Waktu terbaik untuk menuju tempat ini adalah tidak pada waktu musim kemarau, karena sangat jarang kehijauan pepohonan tempat yang eksotik ini.
  3. Tidak ada hotel dikawasan ini, bila ingin menginap bisa dirumah warga
  4. Tidak ada listrik, sebaiknya dipersiapkan batere cadangan.

Sumber lain : Infobackpacker, sumber 2, sumber 3, sumber 4

Categories: Traveling

Es Krim Baltik

September 17, 2010 1 comment

agi itu ketika mata baru saja melek langsung disuruh untuk manjadi petugas antar orang tua-ku. Hari itu memang hari special bagi ibu-ku, beliau berulang tahun dan katanya pagi itu dia lagi ingin menikmati es krim kesukaan-nya di daerah Senen, Jakarta Pusat, Es Krim Baltic. Hari itu kebetulan aku lagi di Jakarta, menikmati libur hari Raya Idul Fitri dan merupakan hal yang laing ku sukai adalah jalan-jalan keliling Jakarta ketika libur lebaran karena jalanan masih pada kosong 😀

Langsung saja hanya cuci muka dan gosok gigi tanpa mandi aku langsung mengantar rombongan ke Jalan Kramat Raya, Senen. Sesampai di sana kami langsung memilih beberapa rasa es krim yang sangat menggoda, hingga kini hanya ada 3 model es krim Baltic: es puter yang di cup, es batang, dan tart es krim, tapi yang ini harus pesan terlebih dahulu. Oh iya, bagi yang membawa kendaraan tidak bisa parkir di depan tokonya karena tepat di per-empatan lampu lalu lintas (lampu merah), jadi kalau mau parkir ketika di persimpangan belok ke kiri dan di depan tempat jual buku-buku bekas bisa parkir di sana.

Rasanya tidak kalah dengan es krim yang biasa kita dapatkan di supermarket dan minimarket, jujur sepertinya lebih enak, untuk generasi saat ini tidak terlalu mengenal produk es krim ini. Sejak didirikan tahun 1939 es krim Baltik tidak membuka cabang dan tidak menaruhnya di supermarket dan mini market , bagi generasi tahun 80an ke bawah es krim ini adalah es krim idola di Jakarta selain es krim Ragusa.

Kedainya terbilang mungil, hanya beberapa meja saja. Di kedai-nya hanya khusus menjual es krim saja tidak pula menjual minuman ringan, sekilas terlihat pengunjung yang datang hanya datang membeli saja tanpa duduk santai terlebih dahulu. Memang bila di kondisikan saat ini, tempat tersebut ‘kurang pas’ untuk di jadikan tempat nongkrong karena terlalu ramai dengan jalan raya, tempat parkir yang cukup sulit dan setahu saya jauh dari typical tempat nongkrong anak muda sekarang.

Dahulu lokasi kedai es krim Baltik merupakan tempat paling strategis ketika Jakarta masih sepi (seperti postingan saya terdahulu yang rindu dengan Jakarta yang masih cukup nyaman). Lokasi di Kwitang, Senen. Di sebrang kedai ada Bioskop Grand yang pernah jaya dimasanya, lalu ada Pasar Senen, di belakang kedai ada taman pusat kesenian, Taman Ismail Marzuki (TIM) dan kampus kesenian, Institut Kesenian Jakarta (IKJ) yang sebelum menjadi keduanya adalah Kebun Binatang dan dekat situ pula ada real estate pertama di Jakarta yaitu, Menteng. Di jalan Gunung Sahari, Kramat Raya, Matraman, hingga Kampung Melayu ada trems seperti di luar negeri (aku membayangkan dulu kenapa trems di hilangkan).

Bisa di bayangkan betapa strategisnya lokasi kedai tersebut, sehabis malam minggu menonton bioskop mampir dulu ke kedai es krim, pulang belanja di Pasar Senen mampir dulu, pulang mengunjungi kebun binatang bersama keluarga, pulang kuliah bersama teman-teman pasti mampir terlebih dahulu. Tapi jangan di bayangkan dari TIM itu jalan berpanas-panas dan macer seperti sekarang, dulu (sangat) tidak sepanas dan macet sekarang. Dan dulu jalan dari TIM ke kwitang dianggap masih dekat.

Categories: Traveling

limbong

June 24, 2008 1 comment

merupakan salah satu wisata di toraja yang sepertinya kurang di kenal, terbukti ketika saya mengunjungi tempat itu, sepi sekali, bahkan tak ada pengunjung selain saya dan temanku. Tak heran memang jika melihat semua itu, akses menuju tempat ini-pun sangatlah tidak layak, jalanan rusak merupakan kendala yang paling utama mengapa tidak ada orang yang datang ke tempat ini,

Menyesal? Tidak, karena perjuangan saya ke tempat ini terbayar melihat semua pemandangan yang ada. Sebuah kolam alam yang di jaga oleh tebing di sekelilingnya, di hiasi oleh langit biru yang cerah semakin melengkapi indahnya tempat itu.




Categories: Traveling

ketekesu

June 24, 2008 3 comments

Ketekesu, merupakan salah satu tempat yang paling banyak di datangi ketika turis darang ke Tana Toraja ini selain Londa. Merupakan salah satu tempat makam yang di buka untuk umum. Pemakaman yang ada di Toraja tergolong berbeda dengan adat-adat yang ada di Indonesia, bahkan di dunia. Maka tak heran jika Tana Toraja merupakan salah satu tujuan wisata bagi pada turis lokal maupun mancanegara.

Sebelum kristen masuk ke Tana Toraja ini, ada kepercayaan yang sudah ratusan tahun berada disini, yaitu kepercayaan “alotodolo”. Menurut cerita orang setempat, kepercayaan ini kemudian ber akulturasi dengan agama kristen yang di bawa oleh Belanda. Yang berbeda pada kepercayaan ini adalah, proses pemakamannya. Mereka (jasad) tidak di kubur atau di kremasi seperti agama dan kepercayaan yang lain, mereka di balsem untuk menjaga tetap awet dan kemudian di di petikan, lalu peti itu di letakan di tebing batu tempat seluruh keluarga mereka berkumpul.

Jika dalam di beberapa tempat lain jasad di makamkan paling lama ada yang sehari, seminggu atau sebulan, tapi berbeda disini. Ketika seseorang meninggal, jasadnya tidak langsung di makamkan, menunggu waktu yang tepat untuk di makamkan, lebih tepatnya dalam hal biaya, karena proses pemakaman di tempat ini sangatlah menelan biaya yang sangat besar. Ukuran besarnya semua pesta pemakaman, menandakan tingginya martabat atau derajat keluarga tersebut. Terutama ketika orang yang mempunyai kedudukan meninggal, dia (yang meninggal) tidak akan di makamkan jika pesta pemakamannya tidak besar dan megah. Maka tak heran jika kita menjumpai banyak orang yang sudah meninggal tidak langsung di makamkan, mereka (jasad) di balsem untuk tetap awet dan di letakan di salah satu ruangan pada tongkonan –rumah ada Tana Toraja- , mereka (jasad) di tempat itu bisa berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun menunggu waktu yang tepat untuk di makamkan.

Selain itu bila kita melihat makam mereka, kita akan melihat ada sebuah patung kayu, itu merupakan perwujudan mereka yang sudah di makamkan, patung kayu itu di letakan dekat makam tempat jasad-nya di kubur.

Bila di sebelah selatan Indonesia tempat yang paling banyak di kunjungi adalah Bali, maka jika di Sulawesi tempatnya adalah Tana Toraja.

Categories: Traveling

bertemu teman lama di tana toraja

June 3, 2008 8 comments

Setelah hampir lebih dari satu tahun tidak bertemu, akhirnya saya bertemu dengan kakak kelas saya semasa kuliah di tempat yang tidak pernah saya duga sebelumnya, yaitu di Tana Toraja yang terkenal dengan suku toraja. Ternyata dia sudah lebih dari satu tahun bekerja disana, menjadi salah satu konsultan di PPM (Program Pemberdayaan Masyarakat), salah satu program yang dilaksanakan pemerintah untuk pengembangan desa-desa.

Berangkat jam 17.00, saya agak sedikit pulang cepat dari kantor, saya naik bis LITHA dari km 2 di Parepare. Untuk perjalanan menempuh waktu sekitar 4-5 jam-an, tapi itu juga beberapa kali berhenti. Ketika melewati kota Enrekang ini mejadi perjalanan yang benar-benar tidak dapat saya lupakan, karena pada perjalanan di bus ini saya baru kali ini merasa pusing yang sangat, menurut orang, kalo orang baru pasti akan merasa pusing dan hingga mabuk darat jika melewati jalan. Bagaimana tidak, ibarat mobil, buntut mobil belum lurus dengan badan, hidung-pun langsung bergelok kembali. Jadi, jika anda merupakan pemula menuju Tana Toraja (terutama bagi yang suka mabuk darat), sya menyarakan untuk : (1) minum obat mabuk (2) makan sebelum pergi (3) jagan duduk di belakang (4) cari pangalih perhatian.

Tidak seperti yang saya kira ternyata Tana Toraja lebih dingin dibandingkan dengan Bandung, walhasil semalaman saya tidur kedinginan. Keseokan harinya saya berencana jalan-jalan mengunjungi tempat-tempat yang menarik disini seperti, Londa, Kutukuse, Tilanga, Limbong, dll dan ternyata cuaca agak kurang mendukung di pagi hari sehingga tidak semua tempat bisa saya datangi.

Ketekesu, tempat yang pertama kali saya datangi. Saya datang agak siang dikarekan hujan di pagi hari. Disini merupakan tempat makam adat Toraja yang biasa di datangi turis-turis. Untuk lebih lengkap nanti akan saya ceritakan di lembar tersendiri

Esoknya saya mengunjungi Limbong, yaitu kolam alam yang di kelilingi oleh tebing-tebing yang tinggi. Indah sekali hingga tidak dapat saya ungkapkan dengan kata-kata. Sama seperti ketekesu, carita Limbong akan saya ceritakan kemudian.

Ada beberapa hal yang bisa saya katakan mengenai Tana Toraja. Selain asri, Tator menurut saya EKSOTIK, sangat jarang melihat suatu tempat dengan suatu adat yang terpelihara dengan baik, tak hanya adat, tapi juga pemandangannya yang begitu indah, cuaca yang begitu unik, route perjalanan yang menantang, baik itu dari Enrekang maupun dari Palopo. Dari semua hal itu saya bisa mengatakan kalau Tator itu eksotik, dan tak heran jika bule-bule senang datang ke tempat ini.

Categories: Traveling

Nasu Pelekko

May 28, 2008 Leave a comment

Berlanjut pada perjalanan saya menuju Majene (jalur lintas provinsi sulawesi), salah satu kota di Sulawesi Barat. Di sekitar daerah sebelum Polewali kami mampir sebentar untuk santap siang di salah satu rumah makan di pinggir jalan, kalau tidak salah nama tempat makannya “Gadis Idola”, memang dari tampilan fisik biasa saja ya namanya juga di pinggir jalan.

Kami memesan menu andalan tempat makan itu “Nasu Panokko”, atau masakan Panokko, jadi nasu = masakan. Bahan dasar dari masakan itu adalah itik, ya..itik, temannya bebek. Awalnya saya sempat ragu untuk mencicipinya, apa benar ini daging itik bisa menghasilkan masakan yang enak dan tidak amis. Tapi ternyata perkiraan saya itu tidak benar.

nasu panokko

Kalau di lihat dari tampilannya memang tidak menarik, disajikan diatas piring yang kurang menarik membuat kita semakin berpikir tampaknya masakanya agak sedikit meragukan. Tapi dengan mengucap Bismillah saya mulai mencicipinya, dan ternyata enak sekali, daging itiknya sama sekali tidak terasa amis, dagingnya empuk, rasanya-pun gurih karena masakannya ditambah dengan santan. Dagingnya di potong kecil-kecil sehingga tidak menyulitkan kita ketika akan menyantapnya.

Tidak hanya dengan nasi makanan ini layak di santap tapi bila di santap dengan buras-pun tak kalah enaknya. Kalau ingin mencicipinya silahkan datangi saja, karena saya juga belum tahu ini bisa di dapat dimana saja, saya hanya bisa bilang ini bisa didapat di salah satu rumah makan di pinggir jalan di daerah menuju Polewali.

Categories: Traveling